KALIMANTAN BARAT — Volume transaksi awal tercatat cukup aktif, mencapai 3,09 miliar saham dengan nilai Rp2,1 triliun. Namun, aksi ambil untung di awal pekan tampaknya masih mendominasi. Indeks-indeks acuan utama seperti LQ45, JII, dan IDX30 ikut tertekan, masing-masing turun 0,28 persen, 0,26 persen, dan 0,21 persen.
Tujuh Sektor Tertekan, Energi dan Properti Jadi Penopang
Dari 11 indeks sektoral, hanya empat yang bertahan di zona hijau: energi, properti, industri, dan kesehatan. Sektor properti dan energi menjadi penahan utama laju pelemahan IHSG lebih dalam, meski kenaikannya tipis. Sebaliknya, tujuh sektor lainnya kompak melemah. Sektor konsumer siklikal, infrastruktur, dan teknologi menjadi yang paling tertekan. Sektor keuangan dan transportasi juga tak luput dari aksi jual investor.
Kondisi ini menunjukkan sentimen risk-off masih membayangi pasar. Investor cenderung melepas saham-saham siklikal dan beralih ke sektor defensif atau yang terkait komoditas.
Tiga Saham Paling Moncer di Tengah Pasar Lesu
Di tengah dominasi saham merah, tiga emiten mencatatkan kenaikan harga tertinggi pagi ini. PT DFI Retail Nusantara Tbk (HERO) memimpin sebagai top gainer, diikuti PT Arthavest Tbk (ARTA) dan PT Pudjiadi & Sons Tbk (PNSE). Ketiganya menjadi pengecualian di tengah lemahnya mayoritas saham, namun belum mampu mengerek sentimen pasar secara keseluruhan.
Apa yang Membayangi Pergerakan IHSG?
Pembalikan arah IHSG dari hijau ke merah dalam hitungan menit mengindikasikan tekanan jual datang sejak sesi awal. Pelaku pasar tampak mencermati sejumlah sentimen eksternal, termasuk pergerakan dolar AS dan harga komoditas global yang masih fluktuatif. Minimnya katalis positif dari dalam negeri pada hari ini juga membuat investor cenderung wait and see.
Data transaksi menunjukkan saham yang stagnan mencapai 381, menandakan banyak pelaku pasar memilih bertahan di pinggir lapangan. Jika tekanan jual berlanjut, IHSG berpotensi menguji level support di 6.100 pada sesi berikutnya.