PONTIANAK — Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) melaporkan kinerja ekspor sawit pada Maret 2026 mengalami kontraksi tajam. Permintaan dari Tiongkok dan India disebut sebagai faktor utama yang menekan angka pengiriman keluar negeri, sementara stok CPO di dalam negeri justru menunjukkan tren peningkatan.
Angka Penurunan: Ekspor Anjlok, Stok Justru Menumpuk
Data yang dirilis GAPKI menunjukkan volume ekspor sawit Kalbar pada Maret 2026 turun 34 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini terjadi di tengah produksi yang juga ikut merosot, namun tidak sebanding dengan laju penurunan permintaan global.
Akibatnya, stok CPO nasional justru mengalami kenaikan. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa pasar sedang mengalami kelebihan pasokan di tengah lesunya daya serap negara tujuan ekspor utama.
Mengapa Tiongkok dan India Mengurangi Pembelian?
GAPKI mencatat bahwa kebijakan domestik di Tiongkok dan India menjadi pemicu utama. Kedua negara tersebut tengah menghadapi tekanan ekonomi yang membuat mereka lebih selektif dalam melakukan impor komoditas energi dan pangan.
“Permintaan dari India turun karena mereka sedang mengoptimalkan stok minyak nabati domestik. Sementara Tiongkok, pergerakan ekonominya yang melambat membuat industri pengolahan mengurangi pembelian bahan baku,” demikian penjelasan dari pihak GAPKI dalam keterangan resminya.
Dampak ke Petani dan Harga Tandan Buah Segar (TBS)
Penurunan ekspor langsung berimbas ke harga di tingkat petani. Harga tandan buah segar (TBS) di beberapa titik di Kalbar mulai menunjukkan pelemahan dalam beberapa pekan terakhir. Para pekebun swadaya menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.
GAPKI memperkirakan tren penurunan ini masih akan berlangsung hingga kuartal kedua 2026 jika tidak ada perubahan signifikan pada permintaan global. Para pengusaha sawit kini mendorong pemerintah untuk mempercepat realisasi program mandatori biodiesel guna menyerap kelebihan stok CPO di dalam negeri.
Langkah Antisipasi: Dorongan Biodiesel dan Diversifikasi Pasar
Menghadapi situasi ini, GAPKI mendesak pemerintah untuk segera mengoptimalkan penyerapan domestik. Program biodiesel B40 yang telah berjalan dinilai belum cukup untuk menyerap lonjakan stok yang terjadi saat ini.
Selain itu, diversifikasi pasar ekspor ke negara-negara Afrika dan Asia Selatan juga mulai digencarkan. Namun, proses tersebut membutuhkan waktu dan negosiasi yang tidak singkat. Para pelaku industri berharap ada kebijakan insentif dari pemerintah pusat untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani selama masa transisi ini.