JAKARTA — Nilai tukar rupiah yang terus tertekan hingga menyentuh Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (12/5/2026) menjadi sinyal waspada bagi pelaku industri sawit nasional. Bank Indonesia (BI) mencatat tekanan ini merupakan kombinasi dari gejolak global dan faktor musiman di dalam negeri.
Dampak Langsung ke Harga CPO Domestik
Dalam perdagangan tender CPO PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN), harga CPO (tidak termasuk PPN) untuk penyerahan Franco Belawan dan Dumai ditutup di angka Rp15.150 per kilogram. Angka ini lebih rendah Rp175 dibandingkan posisi Senin (11/5) yang bertengger di Rp15.325 per kilogram.
Penurunan harga CPO di tengah pelemahan rupiah menjadi perhatian serius. Di Bursa Malaysia, kontrak acuan CPO pengiriman Juli langsung tertekan 20 ringgit atau 0,44 persen menjadi 4.496 ringgit per ton pada awal perdagangan Selasa ini.
Mengapa Rupiah Terus Melemah?
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa anjloknya rupiah dipicu oleh meningkatnya intensitas konflik di Timur Tengah. Ketegangan geopolitik itu mendorong kenaikan harga minyak global dan meningkatkan ketidakpastian, yang langsung menekan mata uang negara berkembang seperti Indonesia.
“Meningkatnya intensitas konflik di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak dan ketidakpastian global, yang berdampak langsung pada tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” ujar Destry dalam pernyataan tertulisnya.
Dari sisi domestik, tekanan rupiah juga diperparah oleh lonjakan permintaan valuta asing (valas) secara musiman. BI mencatat adanya peningkatan kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri (ULN), pembagian dividen, serta pemenuhan dana untuk ibadah haji.
Proyeksi Pasar: Permintaan Fisik Masih Menguat dari Asia
Meski harga tertekan, analis Interband Group of Companies, Jim Teh, memperkirakan harga CPO akan bergerak dalam kisaran 4.200 hingga 4.300 ringgit per ton. Ia menyebutkan permintaan fisik untuk komoditas ini diperkirakan tetap datang dari sejumlah negara.
“Permintaan fisik untuk komoditas ini diperkirakan akan datang dari China, Pakistan, India, dan mungkin beberapa negara di Timur Tengah untuk melakukan peningkatan stok di tengah krisis Asia Barat,” katanya kepada Bernama.
Kondisi ini memberikan sedikit ruang bagi pasar domestik, meskipun tekanan dari nilai tukar dan volatilitas harga global masih menjadi tantangan utama bagi petani dan pelaku industri sawit dalam negeri.