KALIMANTAN BARAT — Sebagian anak memang memproses emosi dan rangsangan sensorik jauh lebih dalam dibanding teman seusianya. Kenali dua tanda utama anak dengan sensitivitas tinggi, plus cara mendampinginya di rumah tanpa harus melindunginya dari setiap situasi.
Ada anak yang santai saat berada di keramaian, ada pula yang langsung menutup telinga begitu mendengar suara petasan. Perbedaan ini bukan soal manja atau cari perhatian, melainkan cara kerja sistem saraf yang memang berbeda sejak lahir.
Istilah kerennya sensory processing sensitivity (SPS), yaitu karakteristik temperamen yang membuat seseorang memproses informasi emosional dan sensorik lebih mendalam. Anak dengan SPS bisa bereaksi lebih kuat, baik terhadap pengalaman menyenangkan maupun yang menyakitkan.
Tanda pertama yang paling mudah diamati adalah reaksi emosi yang tidak sebanding dengan pemicunya. Anak bisa menangis lama hanya karena salah mengambil warna krayon, atau murung berhari-hari setelah bertengkar kecil dengan sahabatnya.
Beberapa perilaku yang sering muncul pada anak dengan sensitivitas emosional tinggi:
Penelitian yang dibahas Psychology Today menunjukkan, sensitivitas emosional tinggi bisa berkaitan dengan kecemasan dan depresi pada anak. Risiko ini membesar ketika anak kurang mendapat dukungan dan respons peka dari orang terdekatnya.
Tanda kedua terlihat dari reaksi terhadap rangsangan sensorik. Suara blender, cahaya lampu yang terang, atau label baju yang menggesek kulit bisa terasa jauh lebih mengganggu bagi anak sensitif dibanding anak lain.
Contoh perilaku yang mungkin Bunda temui sehari-hari:
Sensitivitas sensorik dan emosional bukan gangguan atau