PONTIANAK — Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menilai penyelenggaraan Pontianak Biennale 2026 menunjukkan ekosistem seni di ibu kota Kalimantan Barat itu mampu terhubung dengan jejaring yang lebih luas. Kegiatan ini mempertemukan seniman dari Pontianak, Kalimantan, Pulau Jawa, hingga mancanegara.
"Ini bentuk sinergi seniman yang tidak hanya dari Pontianak dan Kalimantan Barat, tetapi juga dari Pulau Jawa bahkan mancanegara, seperti Singapura, Kroasia, Malaysia, dan Brunei," ujar Edi saat menghadiri pembukaan Pontianak Biennale 2026 di Port 99, Jumat (25/9/2026) malam.
Pontianak Biennale tahun ini menghadirkan 41 seniman lokal, nasional, dan internasional. Sebanyak 22 di antaranya merepresentasikan Pontianak, Kalimantan, dan Borneo, empat berasal dari luar Kalimantan, sementara 12 seniman internasional datang dari Malaysia, Singapura, Hong Kong, Inggris, India, Belanda, Kroasia, San Marino, Jepang, Vietnam, dan Thailand.
Penyelenggaraan kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pontianak Biennale 2026 untuk pertama kalinya digelar secara urunday? dan swakelola dengan melibatkan berbagai institusi, lembaga, organisasi, kolektif, komunitas, serta individu.
Perwakilan Pontianak Biennale 2026, Gusti Enda, menjelaskan tema "Arus Pertemuan dan Gelombang" dipilih untuk merepresentasikan posisi Pontianak dan Kalimantan Barat sebagai titik temu berbagai arus peradaban, budaya, migrasi, dan niaga.
Sungai ditempatkan sebagai metafora yang sejak lama menjadi jalur pertemuan manusia, kebudayaan, pengetahuan, dan peradaban. Biennale dirancang sebagai ruang pertemuan gagasan dan praktik artistik sekaligus memperkuat jejaring pelaku seni dari tingkat lokal hingga global.
Edi menilai karya-karya yang ditampilkan relevan dengan kondisi Pontianak dan Kalimantan Barat saat ini, terutama terkait lingkungan, sungai, dan kebakaran lahan. Ia menyebut seni mampu menyampaikan pesan panjang melalui visual, bunyi, instalasi, maupun karya tiga dimensi.
"Di tengah kondisi bencana asap, kita tidak berhenti berkreasi dan berinovasi. Para seniman juga menyampaikan perasaannya terhadap alam. Banyak karya berbicara tentang sungai, kebakaran lahan, dan bagaimana kita perlu menjaga keseimbangan hidup," katanya.
Sejumlah karya yang menggambarkan suara alam, Sungai Kapuas sebagai nadi kehidupan, hingga hubungan masyarakat dengan hutan dinilai memberi pengalaman kuat bagi pengunjung.
"Semua tampilannya, baik video visual, sculpture maupun lukisan, menggambarkan sesuatu yang menginspirasi. Ini bukan sesuatu yang biasa kita lihat di ruang umum," ujarnya.
Penyelenggaraan Pontianak Biennale 2026 berlangsung selama satu bulan, 25 September hingga 25 Oktober 2026. Selain Port 99, aktivitas juga tersebar di Pasar Tradisional Purnama, SD Negeri 14, Tempias Kopi Banjar Serasan, ruang konferensi, hingga ruang komunal lainnya.
Rangkaian program tidak hanya berupa pameran seni rupa kontemporer. Ada pula konferensi dan forum, Dapok Warge, Beranda Sinema, tur budaya dan sejarah "Pontianak Punye Cerite", Bukumpul Library, hingga Kids Corner.
"Kami ingin Pontianak Biennale menjadi ruang yang terus tumbuh, membuka dialog, dan mempertemukan banyak pihak. Dari pertemuan-pertemuan itu, mudah-mudahan muncul gelombang baru bagi perkembangan seni dan kebudayaan di Pontianak," pungkas Gusti Enda.
Edi mengaitkan peran seniman dengan rencana Pemkot Pontianak merehabilitasi SD Negeri 14 yang merupakan bangunan cagar budaya untuk dikembangkan menjadi museum. Menurutnya, keterlibatan seniman dapat membantu menghadirkan museum yang mampu menceritakan perjalanan Pontianak secara menarik.
"Tahun depan kita akan merehab SD 14 yang merupakan cagar budaya Kota Pontianak dan akan kita jadikan museum. Nanti kita ingin bekerja sama dengan teman-teman seniman untuk membantu mempresentasikan museum itu sehingga bisa bercerita tentang kondisi Kota Pontianak sejak awal hingga hari ini," ujarnya.
Ia berharap Pontianak Biennale dapat terus berkembang sebagai agenda berkala dengan ruang penyelenggaraan yang lebih luas. Tidak hanya di Port 99, kegiatan seni ke depan juga dapat menyentuh taman kota, ruang publik, hingga kawasan terbuka.