Cerita Deby Sagita Jalani Kehamilan Anak Pertama, Andalkan Support System

Penulis: Vikri Alfandi  •  Kamis, 24 September 2026 | 11:52:01 WIB
Aktris Deby Sagita membagikan pengalaman menjalani kehamilan anak pertama dalam acara Journey Comes with a Special Gift from PRENAGEN.

KALIMANTAN BARAT — Menjalani kehamilan anak pertama sering bikin ibu muda cemas, apalagi kalau informasi dari media sosial malah menambah overthinking. Deby Sagita membagikan pengalamannya membatasi ekspektasi, memperkuat support system, dan menyaring informasi demi menjaga kesehatan mental selama hamil.

Kehamilan pertama selalu membawa cerita yang berbeda bagi setiap perempuan. Deby Sagita memilih menjalaninya tanpa banyak ekspektasi agar lebih siap menghadapi segala kemungkinan.

Sang aktris membagikan pengalaman tersebut saat menjadi pembicara dalam acara Journey Comes with a Special Gift from PRENAGEN. Ia mengaku memang tipe orang yang menghindari ekspektasi berlebihan, terutama saat menyambut kehadiran buah hati.

Kenapa Deby Sagita Pilih Tidak Banyak Berekspektasi

Menurut Deby, setiap perempuan punya pengalaman kehamilan yang tidak bisa disamakan. Ia takut berekspektasi A, lalu kenyataannya justru B.

"Jujur aku tuh adalah tipe orang yang takut banget punya ekspektasi, apalagi soal kehamilan. Karena menurut aku, aku sama orang lain tuh mungkin pasti enggak akan sama pengalaman kehamilannya," ujar Deby, Selasa (22/9/2026).

Alih-alih berandai-andai, ia memilih menyiapkan diri sebaik mungkin secara fisik dan mental. Cara ini membantunya lebih tenang menjalani setiap tahap kehamilan.

"Jadi, aku lebih memilih untuk menyiapkan diri aku sebaik mungkin, secara fisik dan mental untuk menyambut kehamilan itu sendiri sih," sambungnya.

Support System Jadi Kunci Saat Rasa Khawatir Datang

Rasa cemas selama hamil itu wajar. Deby mengaku langsung mencari dukungan begitu khawatir muncul, bukan memendamnya sendiri.

Ia bersyukur punya support system yang lengkap, mulai dari suami hingga dokter kandungannya. Obgyn-nya bahkan ia anggap sebagai bagian dari lingkaran dukungan tersebut.

"Kalau aku lagi khawatir, jujur aku langsung ngobrol sama support system aku. Alhamdulillah aku tuh punya support system banyak banget ya. Ada suami, ada dokter obgyn aku juga, aku sebut dia sebagai support system," ungkap Deby.

Deby sempat melewati fase merasa sendirian dan menahan semua perasaan. Setelah berani terbuka, beban emosionalnya perlahan berkurang.

"Dulunya tuh aku worry sendiri, mendem sendiri. Bahkan, aku tuh sempat ada di fase kayak, 'Oh kok hamil ngerasa loney banget ya'. Terus akhirnya aku beraniin diri aku untuk ngobrol sama support system aku," tuturnya.

Berbagi cerita terbukti membuat hatinya lebih ringan. Ia merasa benar-benar didukung, disayang, dan suasana hatinya kembali membaik.

"Dan bener banget ternyata ngobrol sama support system itu benar-benar ngaruh, yang tadinya aku pikir aku sendiri, aku bener-bener ngerasa di-support, disayang, didukung," ujar Deby.

Batasi Media Sosial untuk Kurangi Overthinking

Informasi soal kehamilan di internet memang melimpah. Deby justru memilih membatasi konsumsi media sosial supaya tidak menambah kekhawatiran.

Ia menghindari mencari jawaban di internet saat mulai meragukan kondisi dirinya. Menurutnya, tidak semua informasi di platform digital berisi fakta yang menenangkan.

"Aku sangat mengurangi banget baca semua berita yang ada di media sosial. Jadi, aku juga nge-filter tuh kalau misalnya lagi doubting myself, aku enggak mencari jawaban di internet atau media sosial," ujarnya.

Sebagai gantinya, Deby lebih memilih bertanya langsung kepada ahlinya. Cara ini dinilainya lebih menenangkan secara mental dibanding membaca informasi yang belum tentu benar.

"Karena menurut aku kadang enggak semua informasi yang ada di media sosial, itu bikin kita tenang secara mental. Jadi, aku prefer ngobrol sama support system aku tadi," tuturnya.

Kapan Ibu Hamil Sebaiknya Cari Bantuan Profesional

Rasa cemas ringan selama hamil masih tergolong normal. Namun, kalau kekhawatiran sampai mengganggu tidur, nafsu makan, atau aktivitas harian, jangan ragu konsultasi ke dokter kandungan atau psikolog.

Ibu hamil juga perlu segera menghubungi tenaga medis bila muncul tanda bahaya seperti perdarahan, nyeri perut hebat, atau gerakan janin berkurang. Jangan menunda demi keamanan ibu dan bayi.

Pengalaman Deby Sagita menunjukkan bahwa kehamilan tidak harus dijalani sendirian. Menyiapkan diri secara fisik dan mental, berbagi cerita dengan orang terpercaya, serta menyaring informasi dari media sosial bisa membantu ibu hamil melewati masa ini dengan lebih tenang.

Reporter: Vikri Alfandi
Sumber: haibunda.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top