KALIMANTAN BARAT — BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur memastikan seluruh wilayah provinsi ini berada di puncak musim kemarau akibat El Nino berkategori sangat kuat. Curah hujan diprediksi tetap rendah hingga November, dengan peningkatan signifikan baru terjadi pada Desember mendatang.
Staf Analisa dan Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Firda Amalia, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah memprediksi puncak kemarau pada rentang Agustus hingga September. Menurutnya, anomali atmosfer El Nino yang sangat kuat menjadi pemicu utama kondisi kering ini dan diperkirakan bertahan hingga awal 2027.
Data BMKG menunjukkan curah hujan pada Oktober sangat minim, hanya berkisar 0 hingga 50 milimeter per bulan. Memasuki November, intensitas hujan mulai naik tipis ke rentang 51 hingga 100 milimeter per bulan, masih dalam kategori ringan.
Peningkatan masif baru diprediksi terjadi pada Desember. "Nah, untuk bulan Desember itu mulai banyak hujannya, di BMKG masuk kategori menengah hingga tinggi, yaitu diprediksi sampai 300 - 400 milimeter per bulan," ujar Firda.
Meski berada di puncak kemarau, sejumlah daerah tertentu masih berpeluang diguyur hujan. Firda menyebut faktor lokal seperti topografi pegunungan dan kelembapan udara tinggi dapat memicu hujan di tengah musim kering.
Gangguan gelombang Rossby dan Madden-Julian Oscillation (MJO) turut menjadi pemicu regional yang bisa mendatangkan hujan secara tiba-tiba. Kedua fenomena ini biasa aktif di wilayah tropis dan memengaruhi pola cuaca harian.
El Nino berkategori sangat kuat yang melanda Jawa Timur membuat intensitas hujan tertahan lebih lama dari biasanya. "Kondisi cuacanya cukup kering, dan juga untuk beberapa waktu ke depan memang curah hujannya hingga November itu dari prediksi kami umumnya kategorinya rendah," ungkap Firda.
Warga di wilayah rawan kekeringan perlu menyiapkan pasokan air dan mengantisipasi potensi gagal tanam. Sektor pertanian dan perkebunan di Jawa Timur menjadi yang paling terdampak karena bergantung pada curah hujan musiman.
BMKG memproyeksikan curah hujan kategori menengah hingga tinggi baru membasahi Jawa Timur pada penghujung 2026. Puncaknya terjadi pada Desember dengan volume mencapai 300 hingga 400 milimeter per bulan.
Sebelum itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap cuaca kering dan potensi hujan lokal yang tidak merata. Pemantauan prakiraan harian dari BMKG menjadi acuan penting bagi pelaku usaha pertanian dan pengelola sumber daya air.