PONTIANAK — Kalangan pengusaha perkapalan Kalimantan Barat mengirimkan 10 ribu ton air tawar ke Pemerintah Kota Pontianak. Pasokan itu disalurkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pengolahan air bersih bagi warga Pontianak Timur.
Langkah ini diambil saat intrusi air laut makin parah selama musim kemarau. Air baku dari sungai dan sumber permukaan setempat tidak lagi layak diolah karena kadar salinitasnya melonjak.
Pontianak Timur terletak paling dekat dengan muara sungai sehingga paling awal merasakan rembesan air laut. Sumur warga dan instalasi pengolahan air di kawasan ini mengalami penurunan kualitas sejak kemarau panjang melanda.
Bantuan air tawar dari pengusaha pelayaran itu diharapkan menjaga pasokan air bersih tetap mengalir. Warga tidak perlu lagi membeli air tangki dengan harga mahal atau mencari sumber lain yang jaraknya jauh.
Pengusaha perkapalan memiliki armada dan jaringan logistik yang memadai untuk mendatangkan air dalam volume besar. Kapal-kapal mereka biasa beroperasi di perairan Kalbar sehingga bisa menjangkau Pontianak dengan cepat.
Pemerintah Kota Pontianak menerima pasokan tersebut untuk diolah lebih lanjut sebelum disalurkan ke rumah tangga. Air tawar kiriman itu menjadi bahan baku utama instalasi pengolahan air bersih milik pemkot.
Intrusi air laut terjadi ketika air asin dari laut masuk ke saluran air tawar di daratan. Fenomena ini biasanya menguat pada musim kemarau saat debit air sungai menurun drastis.
Kadar garam yang tinggi membuat air tidak bisa langsung dikonsumsi atau diolah dengan teknologi standar. Diperlukan pasokan air tawar dari luar wilayah untuk mencampur dan menurunkan salinitas.
Musim kemarau yang berkepanjangan di Kalimantan Barat memperparah kondisi tersebut. Kawasan pesisir seperti Pontianak Timur paling rentan karena posisinya berhadapan langsung dengan laut.
Warga Pontianak Timur sebelumnya mengandalkan air sungai dan sumur untuk kebutuhan sehari-hari. Ketika intrusi air laut menguat, air tersebut berubah asin dan tidak layak pakai.
Pasokan 10 ribu ton air tawar ini diharapkan menutupi kebutuhan sementara hingga musim hujan tiba. Pemkot Pontianak belum merinci berapa lama bantuan tersebut akan berlangsung dan apakah akan ada tambahan pasokan berikutnya.
Krisis air bersih akibat intrusi air laut bukan pertama kali terjadi di Pontianak. Wilayah pesisir Kalbar secara rutin menghadapi masalah serupa setiap musim kemarau, terutama saat curah hujan rendah dalam waktu lama.