PONTIANAK — Kedatangan tongkang pertama menjadi bagian dari operasi penyediaan air tawar selama kualitas air baku Sungai Kapuas belum normal. Air dari tongkang tidak langsung dicampurkan dengan air baku sungai, melainkan ditampung lebih dulu di wadah penampungan khusus sebelum diproses di instalasi pengolahan.
Direktur Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa Abdullah menyebut proses pengolahan hari itu diupayakan selesai dalam waktu singkat. Setelah dinyatakan memenuhi standar, air dapat disalurkan atau diambil masyarakat secara gratis untuk kebutuhan minum.
Selain tongkang pertama, dua tongkang lain tengah dalam proses pengisian sebelum ditambatkan ke IPA Parit Mayor. Masing-masing berkapasitas sekitar lima juta liter dan empat juta liter.
Dengan begitu, total air tawar yang dapat diangkut dalam satu rangkaian pengiriman mencapai lebih dari 10 juta liter. Kapasitas itu jauh melampaui pasokan tongkang perdana yang baru tiba.
Perjalanan tongkang dari Terentang menuju Pontianak membutuhkan waktu sekitar dua hari. Kondisi kabut asap dan jarak pandang terbatas membuat pelayaran harus dilakukan lebih hati-hati.
Pengambilan air tawar menggunakan tongkang akan terus dilakukan selama kualitas air baku di Sungai Kapuas masih terdampak intrusi air laut. Operasi baru dihentikan bila kadar garam sungai kembali rendah dan memenuhi persyaratan.
IPA Nipah Kuning Dalam memiliki kapasitas produksi sekitar 300 liter per detik. Fasilitas ini menjadi salah satu instalasi penting dalam melayani kebutuhan air masyarakat, terutama di Kecamatan Pontianak Barat.
Seorang pejabat yang mendampingi kedatangan tongkang menyatakan bahwa IPA tersebut merupakan fasilitas baru dengan investasi cukup besar. Penambahan air tawar diharapkan membuat kualitas air yang tersedia semakin baik bagi warga.
Hingga saat ini, hampir empat juta liter air minum telah didistribusikan kepada masyarakat. Jumlah tersebut belum termasuk tambahan pasokan dari tongkang yang masih dalam proses pengangkutan.
Jajaran Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa diminta mengoptimalkan seluruh sumber daya untuk menjaga pelayanan. Penyediaan air tawar menjadi salah satu langkah memberi kepastian kepada warga di tengah musim kemarau dan kondisi air baku yang belum normal.
"Kita sudah upayakan lembur dan optimalkan segala daya dan tenaga untuk benar-benar memberikan layanan air bersih dan air minum bagi warga Pontianak," katanya.
Berdasarkan pemantauan terbaru, kadar garam di Instalasi Imam Bonjol menunjukkan penurunan dari sebelumnya sekitar 3.000 miligram per liter menjadi sekitar 1.300 miligram per liter. Kondisi di Nipah Kuning masih relatif tinggi.
Abdullah berharap hujan di daerah hulu memberikan dampak dalam dua hingga tiga hari ke depan. Jika kualitas air Sungai Kapuas kembali normal, operasi pengangkutan air tawar menggunakan tongkang dapat dihentikan.