Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan menegaskan bahwa calon pemimpin TNI wajib memahami isu strategis perbatasan sebelum bertugas, terutama di wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Penegasan ini disampaikan saat menerima kunjungan Perwira Siswa Pendidikan Reguler Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) Angkatan ke-66 di Pontianak, Kamis.
PONTIANAK — Puluhan perwira siswa Seskoal yang tengah menjalani Kuliah Kerja Dalam Negeri (KKDN) mendapat arahan langsung dari Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan. Ia menekankan bahwa pemahaman mengenai pengamanan strategi wilayah perbatasan menjadi modal utama bagi calon komandan TNI dalam menjaga kepentingan dan keamanan negara.
Kegiatan ini bukan sekadar proses akademik. Menurut Krisantus, KKDN memberikan ruang bagi para perwira untuk mengamati langsung karakteristik wilayah dan persoalan strategis di daerah, sesuatu yang tidak bisa didapatkan hanya dari ruang kelas.
Kalimantan Barat memiliki posisi unik karena satu pulau dengan negara tetangga. "Kalbar ini provinsi yang strategis karena kita berkongsi pulau dengan negara lain," ujar Krisantus.
Ia mengakui bahwa hubungan baik dengan Malaysia tetap terjalin di tingkat masyarakat sipil. Namun, dari perspektif pertahanan, analisis dan kewaspadaan tidak boleh kendur. "Hubungan baik antarnegara tetap harus disertai kesiapsiagaan dalam menjaga kepentingan dan keamanan nasional," tegasnya.
Seorang calon komandan, lanjut Krisantus, dituntut memahami kondisi geografis, sosial, ekonomi, hingga dinamika masyarakat di wilayah tugasnya. Pengetahuan ini menjadi penentu dalam pengambilan keputusan di lapangan nanti.
Selain soal pertahanan, Krisantus mengingatkan para perwira siswa tentang potensi sumber daya alam Kalimantan Barat yang melimpah. Wilayah ini menyimpan emas, batu bara, bauksit, pasir silika, hingga tanah jarang.
"Ketika sebuah wilayah memiliki sumber daya yang besar, maka kepentingan terhadap wilayah tersebut juga semakin besar," katanya. Sumber daya itu harus dikelola dan dijaga untuk kepentingan masyarakat serta negara secara keseluruhan.
Tantangan lain yang disorot adalah kebakaran hutan dan lahan yang masih berulang setiap musim kemarau. Krisantus menilai penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Penanganan tidak boleh berhenti pada pemadaman api semata. Diperlukan analisis mendalam untuk mengetahui akar penyebab kebakaran agar tidak terjadi berulang setiap tahun.
Krisantus mengapresiasi pelaksanaan KKDN Seskoal di Kalimantan Barat. Ia berharap para perwira memperoleh pemahaman langsung mengenai dinamika strategis wilayah yang kelak menjadi bekal saat bertugas di berbagai penjuru negeri. Kegiatan ini menjadi jembatan antara teori akademik dan realitas di lapangan yang terus berkembang.