SIDOARJO — Insiden keracunan massal yang menimpa 516 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam di Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, memicu penyelidikan lebih luas. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak mengungkapkan, total 19 lembaga pendidikan terdampak kejadian serupa akibat mengonsumsi makanan dari sumber distribusi yang sama.
"Selain pesantren, terdapat sejumlah satuan pendidikan lain yang mengalami kejadian serupa dan seluruhnya memiliki kesamaan yakni menerima makanan dari SPPG Kalitengah," ungkap Emil Dardak.
Keracunan terjadi setelah para santri menyantap menu MBG yang terdiri dari nasi, telur orak-arik, tempe, dan sayur. Sebagian korban mengaku merasakan cita rasa aneh pada menu tumis buncis dan baby corn yang terasa asam.
Menu yang dibagikan kepada para santri pada Selasa (1/9/2026) tersebut meliputi nasi, telur orak-arik, tempe, serta sayur. Dugaan awal keracunan mengarah pada sayur tumis buncis dan baby corn yang disebut memiliki rasa asam oleh sebagian korban.
Para santri dan siswa yang mengalami gejala keracunan saat ini menjalani perawatan intensif di sejumlah rumah sakit. Pemerintah Provinsi Jawa Timur memastikan seluruh biaya pengobatan korban ditanggung penuh oleh pemprov.
Peristiwa ini menjadi perhatian serius bagi daerah lain yang tengah menjalankan program MBG, termasuk Kalimantan Barat yang juga menjadi wilayah sasaran program nasional tersebut. Kejadian di Sidoarjo ini menjadi bahan evaluasi penting bagi pengawasan kualitas dan keamanan pangan dalam rantai distribusi makanan bergizi untuk pelajar dan santri.