KALIMANTAN BARAT — Kebocoran build awal DLSS 5 langsung disambut eksperimen oleh komunitas modding RenoDX. Mereka berhasil mengekstrak library Nvidia bernama nvngx_dlssnr.dll dari versi early-access NBA 2K27, lalu memaksanya berjalan di judul-judul seperti Control, Cyberpunk 2077, The Elder Scrolls V: Skyrim, dan Grand Theft Auto V.
Pengujian tidak resmi menunjukkan beban komputasi yang jauh lebih berat. Pada Control dengan kartu RTX 5090, frame rate anjlok dari sekitar 91 FPS menjadi 50 FPS saat fitur diaktifkan. Di RTX 5070 Ti resolusi 4K, performa jatuh dari 71 FPS ke 35 FPS.
Cyberpunk 2077 juga mengalami penurunan serupa dalam beberapa skenario. Angka tersebut belum bisa dijadikan patokan akhir, karena ini implementasi bocoran yang dipaksakan ke game yang tidak dirancang untuk DLSS 5, tanpa integrasi resmi dari developer.
Berbeda dari DLSS versi sebelumnya yang berfokus pada upscaling resolusi dan peningkatan performa, DLSS 5 mengandalkan model AI untuk mengubah pencahayaan, material, tekstur, hingga detail karakter secara real-time. Pada Control, modder menemukan perubahan pada wajah Jesse Faden, termasuk rambut, kulit, dan pencahayaan.
Sayangnya, hasil modifikasi awal ini belum terlihat natural. Detail tambahan justru membuat karakter tampak terlalu tajam dan jatuh ke area uncanny valley, seolah-olah wajahnya diproses filter AI berlebihan.
NVIDIA sendiri sejak awal memposisikan DLSS 5 sebagai teknologi neural rendering yang menjembatani rendering konvensional dengan kemampuan AI untuk menghasilkan material dan pencahayaan lebih realistis. Perusahaan menyatakan versi final DLSS 5 akan memberi kendali lebih besar kepada developer untuk menentukan seberapa jauh perubahan visual yang diterapkan.
Hasil bocoran yang beredar saat ini disebut telah diperbaiki sejak demonstrasi awal di ajang GTC. Perusahaan juga menegaskan bahwa tiruan yang dipaksakan lewat modding tidak mencerminkan kualitas teknologi sebenarnya.
Bocornya teknologi ini menarik dicermati, terutama karena jadwal peluncuran resmi masih jauh. Bagi pengguna PC gaming di Indonesia yang kerap menunggu evaluasi performa sebelum upgrade GPU, eksperimen komunitas seperti ini bisa menjadi indikator awal apakah arah neural rendering NVIDIA sepadan dengan biaya komputasi yang ditanggung perangkat keras.