NGABANG — Di balik arahan pencegahan yang ditekankan Sekda Landak Heri Adiwijaya dan Kepala BPBD Ir. S. Suseno Caroko Hadi, forum ini justru menjadi ruang curhat bagi para kepala desa. Mereka mengungkap realitas pahit di lapangan: keterbatasan alat pemadam dan kondisi geografis yang menyulitkan respons cepat.
“Beberapa desa berada di wilayah yang jarak tempuhnya bisa mencapai 3 jam dari pusat kabupaten. Ketika api membesar, keterlambatan respons akibat minimnya alat dan personel terlatih di tingkat desa menjadi kendala utama,” ungkap salah satu peserta dalam sesi diskusi.
Tantangan penegakan hukum di lapangan juga menemui jalan buntu yang unik. Beberapa pelaku pembakaran lahan yang berulang kali tertangkap ternyata adalah ODGJ. Kondisi ini memaksa aparat desa dan kepolisian mengambil pendekatan humanis dan preventif, alih-alih tindakan represif.
Kehadiran Tim Mabes TNI yang terdiri dari enam perwira lintas matra menjadi sinyal kuat bahwa ancaman karhutla dan El Nino 2026 bukan lagi sekadar bencana ekologis. Isu ini telah merambah pada krisis kesehatan masyarakat dan berpotensi menjadi masalah diplomasi internasional yang merugikan negara tetangga.
Menanggapi keluhan para kepala desa, Pemkab Landak menegaskan komitmen Perda yang melarang keras pembukaan lahan sembarangan, khususnya di 103.314 hektare kawasan hidrologis gambut yang tersebar di lima kecamatan. Meski ketat, pemerintah tetap membuka ruang bagi kearifan lokal masyarakat dengan mekanisme pencegahan yang terukur.
Diskusi juga menyoroti tanggung jawab korporasi. Muncul aspirasi kuat agar perusahaan besar di sekitar wilayah konsesi benar-benar menunaikan kewajiban CSR-nya untuk fasilitas umum dan kesehatan masyarakat. Standar perusahaan tambang nasional yang mengalokasikan dana CSR disebut sebagai contoh yang seharusnya juga diterapkan oleh korporasi sawit dan tambang di Kalimantan.
Sebagai tindak lanjut, disepakati sinergitas lanjutan antara desa, kecamatan, Polsek, Koramil, dan Manggala Agni untuk deteksi dini. Forum ini ditutup dengan membakar semangat lewat yel-yel khas Landak yang menggema di seluruh ruangan:
“Adil Ka Talino, Bacuramin Ka Saruga, Basengat Ka Jubata! Arus, Arus, Arus! Siapa kita? Indonesia! NKRI? Harga Mati! Jaga Alam, Jaga Generasi! Indonesia Hebat!”