PONTIANAK — Kualitas udara di Pontianak berada pada level paling ekstrem di tengah bencana kabut asap karhutla yang melanda Kalimantan dan Sumatera. Data Kementerian Kesehatan mencatat angka ISPU di ibu kota Kalimantan Barat itu menyentuh 328, level tertinggi yang masuk kategori berbahaya dan berisiko memicu gangguan pernapasan akut bagi warga.
Angka tersebut jauh melampaui ambang batas normal dan menjadikan Pontianak sebagai wilayah dengan pencemaran udara terparah. Dari total 25 kabupaten/kota yang terdampak di tujuh provinsi, hanya Pontianak yang berstatus "berbahaya", sementara delapan wilayah lainnya masuk kategori "sangat tidak sehat".
Di bawah Pontianak, Kabupaten Tebo di Jambi mencatat nilai ISPU tertinggi untuk kategori sangat tidak sehat dengan angka 287. Disusul Kabupaten Barito Selatan (274), Katingan (258), dan PALI Sumatera Selatan (255) yang juga berada dalam kondisi kritis.
Untuk kategori tidak sehat, Kabupaten Ogan Ilir memimpin dengan nilai 183, diikuti Banjarmasin (182) dan Bengkayang (171). Wilayah Kalimantan Barat lain seperti Kubu Raya (104) dan Sambas (103) juga masuk dalam daftar wilayah yang udaranya tidak sehat.
Paparan asap karhutla yang mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, dan nitrogen dioksida meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, hingga penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Polutan beracun ini juga bisa memperburuk kondisi penderita penyakit jantung, stroke, dan hipertensi.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan pekerja luar ruangan menjadi prioritas penanganan karena paling mudah terdampak. Iritasi mata dan kulit juga dilaporkan sebagai keluhan umum yang muncul akibat kabut asap.
Menghadapi krisis ini, Kemenkes menerbitkan Surat Kewaspadaan Karhutla bagi Dinas Kesehatan dan fasilitas kesehatan di seluruh wilayah terdampak. Sebanyak 1.691 puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, dan 87 laboratorium kesehatan masyarakat disiagakan untuk melayani warga yang mengalami gangguan kesehatan.
Selain itu, pemerintah menyiapkan 18.457 dokter umum, 280 dokter spesialis mata, 189 dokter spesialis paru, dan 238 dokter spesialis THT untuk memperkuat layanan. Public Safety Center (PSC) 119 juga diaktifkan sebagai layanan darurat bagi masyarakat.
Kemenkes juga melakukan edukasi pengurangan risiko serta pemantauan penyakit terkait karhutla seperti pneumonia dan iritasi kulit. Surveilans kualitas udara dalam ruang di permukiman berisiko turut dijalankan untuk mencegah dampak yang lebih luas.