SINTANG — Kepastian perubahan jadwal itu disampaikan Kepala Bagian Kerja Sama Sekretariat Daerah Kabupaten Sintang, Boby Oktavianus, dalam Rapat Koordinasi Persiapan Pelaksanaan Pameran Pembangunan, Ekonomi Kreatif, Kelam Tourism Festival dan Panggung Hiburan Rakyat Tahun 2026, Kamis (27/8/2026). Festival yang semula dijadwalkan berlangsung di tiga kabupaten, yakni Sintang, Sanggau, dan Kapuas Hulu, terpaksa diundur karena kualitas udara yang memburuk.
Boby mengungkapkan, kekhawatiran utama bukan hanya soal kenyamanan peserta, tetapi kelancaran transportasi udara. Banyak mitra internasional yang telah memesan tiket penerbangan menuju Pontianak dan Sintang, namun dikonfirmasi bahwa pesawat kemungkinan besar akan kesulitan landing di tengah kabut asap tebal.
“Setelah dikonfirmasi, kemungkinan besar pesawat-pesawat itu akan sulit landing di Pontianak, apalagi di Sintang. Itu yang menjadi pertimbangan, sehingga para mitra akhirnya juga me-reschedule jadwal mereka,” terang Boby, Kamis.
Kondisi ini, lanjutnya, menjadi pertimbangan berat bagi LTKL. Pasalnya, kehadiran mitra luar negeri merupakan bagian penting dari agenda festival yang mengusung tema pembangunan berkelanjutan tersebut.
Boby menegaskan, penundaan ini bukan pembatalan. Pemerintah daerah bersama LTKL justru memanfaatkan tambahan waktu dua bulan untuk mematangkan berbagai persiapan, mulai dari kesiapan lokasi, agenda kegiatan, hingga koordinasi dengan pelaku ekonomi kreatif dan sektor pariwisata.
“Jadi kita bukan membatalkan, tetapi mengundur. Kita berharap pada November nanti kondisi sudah lebih baik sehingga tamu-tamu dari luar daerah dan luar negeri dapat datang dan seluruh rangkaian Festival Lestari bisa terlaksana dengan maksimal,” pungkas Boby.
Baginya, keputusan mengundur kegiatan merupakan langkah yang tidak mudah. “Pembatalan ini juga sebenarnya suasananya tidak enak di LTKL karena mitra dari luar negeri yang akan datang ke Sintang itu banyak yang sudah memesan tiket,” ujarnya.
Bagi Kabupaten Sintang, Festival Lestari dimaknai sebagai kesempatan strategis memperkenalkan kekayaan alam, budaya, pariwisata, dan produk ekonomi kreatif kepada peserta dari berbagai daerah hingga mancanegara. Dengan jadwal baru di awal November, diharapkan musim kemarau telah berlalu dan kualitas udara kembali normal.
Festival ini juga menjadi ajang memperkuat kolaborasi antardaerah dalam mendorong pembangunan berkelanjutan di Kalimantan Barat. Keputusan final tetap berada di tangan Ketua Umum LTKL, Mohamad Rizal Intjenae yang juga Bupati Sigi, Sulawesi Tengah.