Ekspedisi SIDAQ di Perbatasan Sanggau Bagikan 1.000 Mushaf Al-Qur'an ke 30 Titik, 20 Guru Ngaji Terima Santunan

Penulis: Vikri Alfandi  •  Senin, 24 Agustus 2026 | 18:43:01 WIB
Relawan Ekspedisi SIDAQ membagikan 1.000 mushaf Al-Qur'an kepada masyarakat di 30 titik sepanjang jalur perbatasan Entikong hingga Balai Karangan, Sanggau.

SANGGAU — Perjalanan menembus medan kemarau dan keterbatasan bahan bakar tidak menghentikan rombongan relawan untuk menyapa warga di beranda terdepan NKRI. Sepanjang rute Entikong hingga Balai Karangan, mereka singgah di puluhan titik untuk menyalurkan bantuan yang menyasar kebutuhan pendidikan keagamaan masyarakat.

Ketua Panitia Ekspedisi SIDAQ, Rati, menyebut kegiatan ini merupakan bagian dari memaknai kemerdekaan melalui kepedulian sosial. Sambutan hangat dari santri, jajaran KUA Entikong, dan guru ngaji menjadi energi tersendiri bagi tim setelah menempuh perjalanan panjang.

"Kemerdekaan sejati adalah ketika saudara-saudara kita di kawasan perbatasan juga dapat merasakan denyut kebahagiaan dan arti kemerdekaan yang utuh," ujar Rati dalam keterangan yang diterima di Sanggau.

Ratusan Mushaf dan Penghargaan untuk Garda Pendidikan Desa

Distribusi 1.000 mushaf Al-Qur'an menjadi agenda utama ekspedisi. Bantuan tersebut menyasar lembaga pendidikan keagamaan dan komunitas masyarakat di sepanjang jalur perbatasan yang membentang di Kecamatan Entikong hingga Kecamatan Balai Karangan.

Ekspedisi ini juga memberikan apresiasi kepada 20 guru ngaji. Mereka dinilai memegang peran strategis dalam menjaga keberlangsungan pendidikan Al-Qur'an di tengah keterbatasan akses dan geografis yang menantang.

Untuk kebutuhan dasar warga, SIDAQ membangun dua titik wakaf sumur bor. Fasilitas air bersih ini diharapkan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada sumber air musiman.

150 Santri Rayakan 17-an di Pondok Pesantren

Puncak rangkaian kegiatan berlangsung di Pondok Pesantren Miftahul Hidayah, Balai Karangan. Sebanyak 150 santri mengikuti program Berbagi Bersama Santri (BBS) yang dikemas dengan nuansa perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Suasana 17-an sengaja dihadirkan di lingkungan pesantren. Kegiatan dirancang untuk menghadirkan kegembiraan sekaligus menanamkan semangat kebangsaan bagi para santri yang tinggal jauh dari hiruk-pikuk perayaan di perkotaan.

Menurut Rati, tantangan cuaca dan medan selama perjalanan justru memperkuat semangat tim. "Melalui program Ekspedisi SIDAQ Pedalaman di Batas Negeri ini, di tengah tantangan cuaca dan medan kemarau, semangat tim dan sambutan hangat warga Entikong hingga Balai Karangan menjadi energi luar biasa bagi kami," katanya.

Kolaborasi Lintas Lembaga di Jalur Perbatasan

Kegiatan ini diinisiasi SIDAQ (Surgakan Indonesia dengan Al-Qur'an) bersama Baitulmaal Pondok Digital. Dukungan juga datang dari Paskas, Laju Peduli, Ashar Humanity, Hijrah Peduli, Dapur Peduli, serta Karang Taruna Sanggau.

Kolaborasi antarlembaga menjadi kunci agar bantuan dapat menjangkau masyarakat di titik-titik terpencil. Tim ekspedisi melewati sekitar 30 titik singgah dengan kondisi alam yang cukup berat, termasuk keterbatasan pasokan bahan bakar di tengah musim kemarau.

Ekspedisi ini membawa pesan bahwa kemerdekaan di perbatasan dirayakan melalui kehadiran dan kepedulian. Di titik paling depan negeri, kemerdekaan bukan hanya tentang bendera yang berkibar, tetapi juga tentang memastikan warga tidak merasa berjalan sendirian.

Reporter: Vikri Alfandi
Sumber: suarakalbar.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top