Health Talk di Pontianak, Dokter Spesialis Kuching Soroti Banyak Pasien Kanker Serviks Datang Sudah Stadium Lanjut

Penulis: Wisnu Wardana  •  Minggu, 23 Agustus 2026 | 15:24:01 WIB
Dokter spesialis dari Borneo Medical Centre Kuching menyoroti banyaknya pasien asal Indonesia yang datang berobat dalam kondisi kanker serviks stadium lanjut dalam Health Talk di Harris Hotel Pontianak, Minggu (23/8/2026).

PONTIANAK — Dua dokter spesialis dari Borneo Medical Centre Kuching, Malaysia, menyoroti masih banyaknya pasien asal Indonesia yang datang untuk berobat dalam kondisi kanker serviks stadium lanjut. Hal ini mengemuka dalam kegiatan Health Talk yang digelar di Harris Hotel Pontianak, Minggu (23/8/2026).

Kegiatan yang mempertemukan rumah sakit dengan masyarakat dan pasien asal Pontianak ini menghadirkan Dr. Nicholas Ngeh, spesialis obstetri dan ginekologi (Obgyn), serta Dr. Yu Kong Leon, spesialis onkologi. Selain menjadi ajang silaturahmi, acara ini menjadi wadah edukasi mengenai pencegahan dan penanganan penyakit.

Gejala Awal Sering Diabaikan, Pasien Baru Datang Saat Sudah Menyebar

Dr. Nicholas Ngeh mengungkapkan, banyak pasien yang seharusnya bisa tertangani lebih dini justru datang ketika penyakit telah memasuki tahap lanjut. Padahal, langkah pencegahan seperti vaksinasi dan pemeriksaan rutin sebenarnya bisa dilakukan sejak awal.

"Banyak masalah yang sebenarnya boleh diatasi dengan vaksin dan program pemeriksaan, tetapi banyak orang tidak tahu. Setelah tahu pun kadang tidak dilakukan karena tidak ada waktu," ungkapnya.

Menurut Nicholas, keterlambatan pemeriksaan kerap terjadi karena pasien menganggap gejala awal bukan sesuatu yang serius. Salah satu tanda yang patut diwaspadai adalah perdarahan tidak normal, terutama setelah menopause.

"Kalau perdarahan sudah berlangsung dua atau tiga bulan, jangan tunggu lagi. Harus diperiksa. Banyak kasus setelah dilakukan biopsi ternyata kanker dan ketika diperiksa lebih lanjut sudah menyebar," jelasnya.

Vaksin HPV Sebelum Menikah dan Pemeriksaan Berkala Jadi Kunci

Ia menekankan bahwa pencegahan dan deteksi dini jauh lebih baik dibandingkan menunggu penyakit berkembang hingga stadium tiga atau empat. Pada tahap tersebut, penanganan menjadi lebih kompleks dan membutuhkan radioterapi serta pengobatan lain yang berdampak pada kualitas hidup pasien.

"Nasihat saya, vaksin awal-awal, sebelum menikah atau sebelum aktivitas seksual. Setelah itu tetap lakukan pemeriksaan secara berkala," katanya.

Pengobatan Kanker Kini Lebih Beragam, Tak Hanya Kemoterapi

Sementara itu, Dr. Yu Kong Leon memaparkan perkembangan teknologi pengobatan kanker yang semakin beragam. Selain kemoterapi dan radioterapi, pasien kini bisa memperoleh terapi target, imunoterapi, hingga antibody-drug conjugate (ADC) tergantung jenis kanker, kondisi pasien, dan stadium penyakit.

"Untuk onkologi, pengobatan kita dari segi radiasi, kemoterapi, imunoterapi dan terapi target. Setiap kanker dan setiap stadium memiliki pengobatan yang berbeda," jelas Dr. Yu.

Ia menambahkan, penentuan terapi tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan satu hasil pemeriksaan. Dokter perlu melihat keseluruhan kondisi pasien, termasuk hasil biopsi dan pemindaian, sebelum menentukan pilihan pengobatan.

"Pasien harus kita wawancara dan kita lihat keseluruhan kondisinya. Setelah itu baru kita jelaskan pilihan pengobatan satu per satu," katanya.

Warga Bisa Konsultasi Hasil Pemeriksaan untuk Second Opinion

Perwakilan Infocentre Borneo Medical Centre, Deki Junaedi, mengatakan kegiatan ini menjadi kesempatan untuk memberikan pemahaman lebih luas kepada masyarakat mengenai berbagai pilihan layanan medis. Pihaknya juga membuka kesempatan bagi warga yang ingin mendapatkan opini medis kedua atau second opinion.

"Tidak ada syarat khusus. Kalau pasien ingin second opinion, sebaiknya membawa data-data pemeriksaan sebelumnya, seperti hasil laboratorium atau pemeriksaan lainnya. Nanti bisa kami jelaskan dan konsultasikan," jelas Deki.

Borneo Medical Centre berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat Pontianak untuk menjaga kesehatan reproduksi, melakukan deteksi dini, serta tidak menunda pemeriksaan ketika menemukan gejala yang tidak normal.

Reporter: Wisnu Wardana
Sumber: tkppontianak.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top