Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tanjungpura (Untan) membangun rumah kompos berukuran 2x3 meter di Pondok Pesantren Hidayatul Muslimin, Kubu Raya, Kalimantan Barat. Program ini sekaligus melatih para santri mengubah sampah organik menjadi kompos siap pakai. Inisiatif tersebut bertujuan menanamkan kemandirian dan budaya peduli lingkungan sejak dini di lingkungan pesantren.
PONTIANAK — Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tanjungpura (Untan) menggandeng Pondok Pesantren Hidayatul Muslimin di Kubu Raya untuk mengelola sampah organik secara mandiri. Tidak sekadar memberi penyuluhan, tim turun tangan membangun rumah kompos beserta seperangkat alat pengolahannya di lingkungan pesantren.
Ketua tim pelaksana, Boy Rangga, menyebut program ini merupakan bagian dari skema Implementasi Rumah Kompos sebagai Media Pemberdayaan dan Edukasi Lingkungan. Pendanaannya berasal dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemenristekdikti untuk tahun 2026.
Rumah kompos berukuran 2x3 meter itu dirancang sebagai pusat pengolahan sampah organik. Tim juga menyerahkan bak komposter, mesin pencacah sampah organik, serta peralatan pendukung seperti aktivator EM4, molase, alat pelindung diri, tempat sampah organik, sekop, dan timbangan digital.
Boy Rangga menjelaskan bahwa keberadaan fasilitas ini diharapkan menjadi media pembelajaran lingkungan yang nyata bagi santri dan pengelola pesantren. "Pelatihan ini merupakan bagian dari program Implementasi Rumah Kompos sebagai Media Pemberdayaan dan Edukasi Lingkungan pada Pesantren Hidayatul Muslimin Kabupaten Kubu Raya dalam Upaya Pengelolaan Sampah Organik Berkelanjutan," katanya di Pontianak, Sabtu.
Dalam pelatihan, para santri tidak hanya menerima materi teori. Mereka diajak praktik langsung mempraktikkan seluruh proses pembuatan kompos, mulai dari pemilahan dan pencacahan bahan, pencampuran bahan hijau dan cokelat, pembuatan larutan aktivator, hingga pengaturan kelembapan.
Tim pelaksana yang beranggotakan Hervian Handika Sugasta dan Yoga Mandala, serta tiga mahasiswa—Kautsar Fadhilah Kotani, Dwiky Astomo Putra, dan Lusiawati—juga mengajarkan perawatan kompos. Materi mencakup pemantauan suhu dan kelembapan, pembalikan bahan, hingga pengenalan ciri-ciri kompos yang telah matang.
Pengelolaan rumah kompos ini dirancang berkelanjutan. Santri dilibatkan dalam seluruh siklus, dari pengumpulan sampah, pencacahan, pengomposan, pemantauan, pencatatan, hingga pemanenan kompos.
Kompos yang dihasilkan nantinya bisa dimanfaatkan untuk kebun pesantren, tanaman sayur dan buah, tanaman hias, serta campuran media tanam. Program ini diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang dibuang ke lingkungan sekaligus membangun kemandirian warga pesantren dalam mengelola limbah organik.