PONTIANAK — Kebenaran sebuah informasi tidak otomatis menjadikannya layak untuk disebarluaskan. Hal ini menjadi pesan kunci yang disampaikan Pengamat Digital Budi Luhur University, Julaiha Probo Anggraini, dalam kegiatan Sosialisasi Merajut Nusantara bertema "Etis Bermedia Digital", Jumat (21/8/2026).
Menurut Julaiha, pengguna media sosial kerap terjebak pada kecepatan menyebarkan informasi tanpa mempertimbangkan dampak yang mungkin timbul. Padahal, jejak digital bersifat permanen dan sulit ditarik kembali setelah tersebar luas.
"Kita juga harus menilai, ketika informasi itu disebarkan, apakah manfaatnya lebih besar atau justru kerugiannya yang lebih besar terhadap orang tersebut. Itu yang harus dipertimbangkan," ujarnya.
Untuk membangun kebiasaan bermedia sosial yang lebih bertanggung jawab, Julaiha memperkenalkan empat pertanyaan sederhana yang bisa diterapkan sebelum membagikan sebuah informasi kepada orang lain.
Pertama, apakah informasi tersebut benar dan memiliki konteks yang jelas? Julaiha mengingatkan agar pengguna tidak hanya melihat judul, potongan video, tangkapan layar, atau kutipan yang beredar tanpa memahami keseluruhan konteks.
Kedua, apakah informasi tersebut memang perlu diketahui orang lain? Tidak semua hal yang diketahui seseorang harus menjadi konsumsi publik, terutama yang menyangkut privasi seseorang.
"Kebenaran bukan satu-satunya ukuran dari etika. Sebelum menyebarkan informasi yang benar, kita harus bertanya, apakah informasi ini perlu disebarkan kepada orang lain?" kata Julaiha.
Ketiga, kepada siapa informasi tersebut ditujukan dan bagaimana cara menyampaikannya? Bahasa yang berlebihan atau provokatif dapat mengubah informasi menjadi persoalan baru di tengah masyarakat.
Keempat, apa dampaknya setelah informasi tersebut tersebar? Pertanyaan terakhir ini penting karena informasi yang dibagikan hari ini dapat memengaruhi reputasi, pekerjaan, hubungan sosial, bahkan kehidupan seseorang di kemudian hari.
Julaiha menilai literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan perangkat teknologi atau membedakan informasi yang benar dan salah. Pemahaman mengenai bagaimana teknologi digunakan secara bertanggung jawab juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Setiap unggahan, komentar, foto, video, maupun informasi yang diteruskan dapat berdampak pada kehidupan orang lain. Dalam hitungan detik, sebuah informasi dapat berpindah dari satu akun ke ribuan bahkan jutaan pengguna.
"Etika digital menjadi bagian penting dari literasi digital karena setiap unggahan, komentar, maupun informasi yang dibagikan dapat berdampak terhadap kehidupan orang lain," demikian penjelasan Julaiha.
Media sosial memberikan ruang bagi setiap orang untuk menjadi penyampai informasi. Namun, kemudahan tersebut juga membawa tanggung jawab yang tidak ringan.
Kecepatan menjadi orang pertama yang membagikan sebuah informasi tidak selalu lebih penting daripada memastikan informasi tersebut disampaikan secara tepat dan bertanggung jawab. Masyarakat perlu memahami batas antara hak untuk mengetahui, kepentingan publik, dan hak orang lain untuk mendapatkan perlindungan atas privasi serta martabatnya.
Dengan membangun kebiasaan berhenti sejenak sebelum membagikan informasi, warga Kalbar dapat ikut menciptakan ruang digital yang lebih sehat dan mengurangi potensi kerugian bagi pihak lain.