Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengganggu operasional penerbangan di Kalimantan Barat. Sebanyak enam penerbangan di Bandara Internasional Supadio Pontianak mengalami keterlambatan pada Jumat pagi karena jarak pandang turun drastis di bawah 1.000 meter, satu di antaranya bahkan terpaksa dialihkan ke Bandara Hang Nadim Batam.
PONTIANAK — Gangguan kabut asap kembali melanda Bandara Internasional Supadio Pontianak, Kalimantan Barat. General Manager Bandara Internasional Supadio, Maya Damayanti, mengonfirmasi enam penerbangan terdampak penurunan jarak pandang pada Jumat pagi, terdiri dari lima rute keberangkatan dan satu rute kedatangan.
Lima penerbangan keberangkatan yang tertunda adalah JT 837 rute Pontianak-Surabaya, IU 691 Pontianak-Jakarta, IW 1440 Pontianak-Ketapang, IU 683 Pontianak-Jakarta, dan IU 697 Pontianak-Jakarta. Sementara itu, satu penerbangan kedatangan IU 682 rute Jakarta-Pontianak harus melakukan go around sebelum akhirnya dialihkan (divert) ke Bandara Hang Nadim Batam pada pukul 08.24 WIB.
Berdasarkan informasi BMKG Stasiun Supadio, jarak pandang di pagi hari turun hingga di bawah 1.000 meter. Angka ini berada di bawah standar minimum yang dipersyaratkan untuk operasional penerbangan yang aman.
PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Internasional Supadio menyebut penurunan jarak pandang ini dipicu kabut asap dari karhutla di sejumlah wilayah sekitar bandara. Kondisi serupa sebenarnya telah berlangsung beberapa hari terakhir.
Data operasional mencatat, pada 18-20 Agustus 2026 saja, total 15 penerbangan mengalami keterlambatan akibat kondisi jarak pandang yang terbatas. Artinya, gangguan ini bukan insiden sekali jalan, melainkan pola yang berulang dalam sepekan terakhir.
Maya menegaskan bahwa keselamatan, keamanan, dan kenyamanan penerbangan menjadi prioritas utama dalam menghadapi kondisi cuaca dan jarak pandang yang terbatas. Pihaknya terus memantau perkembangan kondisi di bandara secara waktu nyata.
"Kami terus memantau perkembangan kondisi jarak pandang di bandara. Koordinasi lintas instansi dengan stakeholder terkait berjalan dengan baik untuk memastikan seluruh prosedur keselamatan penerbangan terpenuhi di tengah kondisi gangguan asap saat ini," ujarnya.
Koordinasi tersebut melibatkan BMKG, AirNav Indonesia, maskapai penerbangan, BNPB, dan Polres Kubu Raya. Mereka bekerja sama menentukan kelayakan operasional penerbangan berdasarkan data jarak pandang terkini.
PT Angkasa Pura Indonesia mengimbau calon penumpang yang memiliki jadwal keberangkatan pagi agar mengantisipasi kemungkinan perubahan jadwal. Kondisi kabut asap berpotensi menyebabkan perubahan jadwal apabila jarak pandang belum memenuhi standar keselamatan penerbangan.
Calon penumpang diminta memeriksa status penerbangan secara berkala kepada maskapai masing-masing. Informasi resmi juga dapat diperoleh melalui kanal komunikasi resmi pihak Bandara Supadio.