Sejarah Singkat Kalimantan Barat: Dari Masa Lampau hingga Kini, Warisan Kerajaan hingga Provinsi Modern

Penulis: Alfin Murtado  •  Jumat, 03 Juli 2026 | 15:38:31 WIB
Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie mendirikan Pontianak pada 1771 di pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak.

Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat, berdiri di titik pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Bukan kebetulan lokasi ini dipilih Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie pada 1771. Sungai Kapuas, yang membentang 1.143 kilometer, menjadi urat nadi perdagangan dan mobilitas masyarakat Dayak, Melayu, dan Tionghoa sejak abad ke-18.

Provinsi ini resmi dibentuk pada 1 Januari 1957. Namun, akar sejarahnya jauh lebih dalam. Empat babak besar membentuk Kalimantan Barat seperti yang kita kenal sekarang: era kerajaan, kolonial Belanda, pendudukan Jepang, dan pasca-kemerdekaan.

1. Era Kerajaan: Tanjungpura dan Mempawah

Kerajaan Tanjungpura adalah entitas politik tertua di kawasan ini, berdiri sejak abad ke-13. Berpusat di daerah Ketapang, kerajaan ini menguasai jalur perdagangan lada dan emas. Pengaruhnya melemah setelah Kesultanan Banjar dan Belanda masuk.

Di sisi lain, Kerajaan Mempawah di pesisir utara Pontianak berkembang lewat jalur maritim. Pada 1787, Belanda melalui VOC mulai mengikat perjanjian dengan kerajaan-kerajaan lokal. Salah satu tokoh yang tercatat dalam babad lokal adalah Opu Daeng Menambon, yang mendirikan dinasti di Mempawah pada abad ke-18.

2. Kolonial Belanda: Eksploitasi Tambang dan Pembagian Wilayah

Belanda masuk secara sistematis setelah VOC bubar. Mereka mendirikan pos-pos dagang di sepanjang Sungai Kapuas. Pada 1823, Hindia Belanda membagi Kalimantan Barat menjadi beberapa afdeeling (kabupaten). Daerah tambang emas di Monterado dan Bengkayang menjadi sasaran utama eksploitasi.

Tenaga kerja didatangkan dari Tiongkok selatan, terutama etnis Hakka dan Tiochiu. Mereka bekerja di tambang emas dan perkebunan karet. Komunitas Tionghoa ini kemudian membentuk perkampungan yang kini menjadi pusat kota Singkawang dan bagian utara Pontianak.

Belanda juga menerapkan sistem pemerintahan tidak langsung. Mereka mengangkat sultan atau raja sebagai alat kontrol. Kebijakan ini menciptakan stratifikasi sosial yang kaku antara kelompok Melayu di pesisir dan Dayak di pedalaman.

3. Pendudukan Jepang dan Perjuangan Kemerdekaan

Jepang mendarat di Pontianak pada Januari 1942. Mereka langsung membubarkan struktur pemerintahan Belanda. Masa pendudukan ini menimbulkan penderitaan besar. Ribuan orang Dayak dan Melayu dipekerjakan paksa membangun lapangan terbang dan rel kereta.

Peristiwa berdarah yang paling dikenang adalah Pembantaian Mandor pada 1943-1944. Lebih dari 21.000 orang dari berbagai etnis dieksekusi di daerah Mandor, Kabupaten Landak. Peristiwa ini meninggalkan trauma kolektif yang masih dibicarakan hingga kini.

Setelah proklamasi 1945, Kalimantan Barat tidak langsung bergabung ke NKRI. Belanda membentuk Negara Kalimantan Barat pada 1946 sebagai bagian dari federal. Baru pada 1950, melalui Konferensi Meja Bundar, wilayah ini secara resmi bergabung ke Republik Indonesia.

4. Era Reformasi hingga Kini: Otonomi Daerah dan Identitas Baru

Setelah Orde Baru tumbang pada 1998, Kalimantan Barat mengalami perubahan besar. Undang-undang otonomi daerah tahun 1999 memungkinkan pembentukan kabupaten baru. Bengkayang, Landak, dan Sekadou adalah hasil pemekaran dari Kabupaten Pontianak dan Sanggau.

Konflik etnis yang pecah pada 1997-2001 antara Dayak dan Madura menjadi titik kelam. Ribuan orang tewas dan puluhan ribu mengungsi. Sejak itu, pemerintah daerah dan tokoh adat gencar membangun rekonsiliasi. Kini, Kalimantan Barat dikenal dengan semboyan "Bersatu dalam Keberagaman".

Pontianak berkembang sebagai pusat ekonomi dan pendidikan. Universitas Tanjungpura, yang berdiri sejak 1959, menjadi kiblat akademik di Kalimantan Barat. Sektor perkebunan sawit dan karet mendominasi perekonomian, meski isu deforestasi masih menjadi perdebatan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kapan Kalimantan Barat resmi menjadi provinsi?
1 Januari 1957, berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Provinsi Kalimantan Barat.

Apa kerajaan tertua di Kalimantan Barat?
Kerajaan Tanjungpura, yang berdiri sekitar abad ke-13 di wilayah Ketapang.

Mengapa banyak warga Tionghoa di Singkawang?
Karena kebijakan kolonial Belanda yang mendatangkan tenaga kerja tambang emas dari Tiongkok selatan pada abad ke-19.

Apa peristiwa Mandor dalam sejarah Kalbar?
Pembantaian massal oleh tentara Jepang pada 1943-1944 di Mandor, Kabupaten Landak, yang menewaskan puluhan ribu orang.

Bagaimana hubungan etnis Dayak dan Melayu di Kalbar?
Secara tradisional harmonis, dengan sistem kekerabatan dan perdagangan lintas sungai. Konflik besar hanya terjadi dengan etnis Madura pada akhir 1990-an.

Perjalanan Kalimantan Barat dari masa kerajaan hingga era digital menunjukkan daya tahan masyarakatnya. Sungai Kapuas tetap mengalir, menyimpan cerita tentang peradaban yang terus berubah. Bagi perantau atau wisatawan, memahami sejarah ini membuat setiap kunjungan ke Pontianak atau Singkawang terasa lebih bermakna.

Reporter: Alfin Murtado
Back to top