KALIMANTAN BARAT — Berdasarkan data pasar, mata uang Garuda menguat 0,32 persen dari penutupan perdagangan sebelumnya. Pergerakan ini sejalan dengan sejumlah mata uang Asia lainnya, di mana ringgit Malaysia menjadi pemimpin penguatan dengan kenaikan 0,40 persen, disusul peso Filipina yang naik tipis 0,06 persen.
Namun, momentum positif ini belum sepenuhnya aman. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperingatkan bahwa tekanan terhadap rupiah bisa kembali muncul dalam waktu dekat.
Lukman menjelaskan bahwa potensi pelemahan rupiah dipicu oleh kembali memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. "Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS seiring kembali terjadinya eskalasi di Timur Tengah oleh saling serang antara Iran dan AS," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.
Konflik tersebut memicu ketidakpastian pada prospek perdamaian di kawasan dan mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak berarti beban impor energi yang lebih besar, sehingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah pun meningkat.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terbelah. Meski rupiah dan ringgit menguat, won Korea Selatan justru terkoreksi 0,49 persen. Yuan China turun 0,07 persen, dolar Singapura melemah 0,06 persen, yen Jepang turun 0,02 persen, dan dolar Hong Kong terkoreksi 0,01 persen.
Sementara itu, di negara maju, pergerakan dolar AS bervariasi terhadap mata uang utama lainnya. Dolar Kanada menguat 0,03 persen dan euro Eropa naik tipis 0,01 persen. Poundsterling Inggris cenderung stabil, sedangkan dolar Australia melemah 0,16 persen dan franc Swiss turun 0,02 persen.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan rentang yang cukup lebar. "Rupiah bergerak di kisaran Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan hari ini," jelasnya.
Level Rp18.000 menjadi batas psikologis yang krusial. Jika tensi geopolitik terus meningkat dan harga minyak melonjak, bukan tidak mungkin rupiah kembali mendekati level tersebut dalam sesi perdagangan berikutnya.
Bagi investor dan pelaku bisnis, volatilitas ini menuntut kewaspadaan ekstra. Pergerakan rupiah yang tiba-tiba bisa berdampak langsung pada biaya impor bahan baku, nilai utang dalam dolar, serta imbal hasil investasi di pasar keuangan domestik.