KALIMANTAN BARAT — Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat pangsa pasar LCGC masih bertahan di angka 13 persen dari total penjualan nasional pada Januari–April 2026. Namun, volume distribusi dari pabrik ke dealer turun drastis 25 persen atau setara 12.593 unit jika dibandingkan catatan tahun lalu. Penurunan ini terjadi di tengah gempuran mobil listrik murah asal China yang kini mulai menggerogoti segmen entry-level.
Toyota masih mempertahankan dua model LCGC andalannya. Calya varian termurah dibuka di Rp 170,2 juta untuk tipe 1.2 E STD M/T, sementara Calya 1.2 G A/T Basic menjadi yang termahal di Rp 193,2 juta. Untuk Agya, harga paling rendah ada di Rp 173,8 juta (1.2 E M/T) dan tertinggi Rp 201,2 juta untuk Agya Stylix 1.2 G CVT.
Daihatsu masih menjadi pemain dengan banderol paling rendah di segmen LCGC. Ayla 1.0 M M/T dibanderol hanya Rp 140,2 juta, menjadikannya mobil termurah di daftar ini. Sementara Sigra 1.0 D MT MC menyusul di Rp 143,2 juta. Kedua model ini menjadi andalan Daihatsu untuk menjaring konsumen yang sensitif terhadap harga.
Honda Brio Satya varian E CVT menjadi satu-satunya model LCGC yang harganya menembus Rp 206,7 juta. Varian terendah, Brio Satya S M/T, dibuka di Rp 170,4 juta. Meski paling mahal, Brio tetap menjadi primadona di segmen ini berkat reputasi mesin dan nilai jual kembali yang tinggi.
Deretan harga LCGC ini kini bersaing langsung dengan mobil listrik murah seperti Wuling Air ev, BYD Atto 1, Geely EX2, dan Chery Q. Meski banderol terendah mobil listrik mulai Rp 199 juta—lebih mahal dari kebanyakan LCGC—biaya operasional dan insentif pajak membuatnya semakin menarik. Penurunan penjualan LCGC sebesar 25 persen dalam empat bulan pertama 2026 menjadi sinyal bahwa konsumen mulai melirik opsi elektrifikasi.