PONTIANAK — Pemerintah pusat memastikan tidak ada kelangkaan pupuk bersubsidi di Kalimantan Barat. Kepastian itu disampaikan langsung Menko Pangan Zulkifli Hasan saat menghadiri Rembuk Tani di Kabupaten Kubu Raya, Sabtu (6/6/2026). Ia mengaku telah melakukan pengecekan di lapangan dan hasilnya stok pupuk mencukupi kebutuhan petani di daerah tersebut.
“Saya turun langsung ke daerah untuk memastikan pupuk tersedia. Alhamdulillah dari hasil pengecekan, pupuk ada dan cukup untuk kebutuhan petani,” ujar Zulkifli Hasan di hadapan para petani yang hadir.
Selain soal pupuk, persoalan harga gabah kering panen menjadi sorotan utama dalam pertemuan itu. Zulkifli Hasan menegaskan pemerintah tidak ingin petani terus dirugikan oleh harga jual yang anjlok saat panen raya. Ia meminta seluruh pihak segera melaporkan jika menemukan harga gabah di bawah ketentuan.
“Kalau ada harga gabah di bawah Rp6.500 per kilogram harus segera dicek. Petani harus mendapatkan harga yang layak agar mereka bisa menikmati hasil dari kerja kerasnya,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Zulkifli Hasan mengakui bahwa petani di Indonesia, termasuk di Kalbar, kerap menghadapi masalah klasik: biaya produksi membengkak saat masa tanam, tetapi harga jual justru jatuh saat panen. Ia menilai kondisi ini harus segera diakhiri jika Indonesia serius mewujudkan ketahanan pangan.
Menurutnya, konflik geopolitik global dan gangguan rantai pasok dunia sempat menjadi tantangan bagi sektor pupuk nasional. Namun, pemerintah terus berupaya menjaga pasokan agar produksi pertanian tidak terganggu.
Zulkifli Hasan menekankan bahwa swasembada pangan bukan sekadar soal menaikkan angka produksi beras. Lebih dari itu, kesejahteraan petani harus menjadi prioritas utama. Ia menyebut ketahanan pangan yang kuat hanya bisa dibangun jika petani diuntungkan oleh kebijakan yang ada.
“Ketahanan pangan tidak akan tercapai jika petaninya tidak sejahtera. Karena itu pupuk harus tersedia dan harga gabah harus menguntungkan petani,” katanya.
Pemerintah berharap, melalui pengawasan distribusi pupuk yang ketat hingga ke tingkat lapangan serta pengawasan harga gabah, produktivitas pertanian terus meningkat. Langkah ini juga diyakini mampu menjaga semangat petani dalam mendukung target swasembada pangan nasional.