KUBU RAYA — Petani di Kalimantan Barat tak perlu khawatir soal ketersediaan pupuk di tengah musim tanam 2026. PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan pasokan masih aman, bahkan realisasi penyaluran telah mencapai 80 ribu ton hingga pekan pertama Juni.
Salah satu kabar baik bagi petani adalah penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi yang mulai berlaku sejak 2025. Untuk pupuk urea, petani kini cukup membayar Rp 1.800 per kilogram, turun dari sebelumnya Rp 2.250 per kilogram. Sementara pupuk NPK juga mengalami penurunan harga sekitar 20 persen.
Kebijakan ini didukung anggaran subsidi pupuk nasional tahun 2026 yang mencapai Rp 46 triliun. Total alokasi nasional mencapai 8,9 juta ton, dan Kalimantan Barat mendapat jatah 180 ribu ton sepanjang tahun ini.
Wono Budi Tjahyono mengatakan angka serapan 80 ribu ton menunjukkan distribusi berjalan sesuai kebutuhan petani. "Penyaluran pupuk di Kalimantan Barat berjalan sesuai kebutuhan petani. Dari total alokasi sekitar 180 ribu ton per tahun, hingga awal Juni sudah terserap sekitar 80 ribu ton," ujarnya saat menghadiri Rembuk Tani di Jalan Arteri Supadio, Kabupaten Kubu Raya, Jumat (5/6/2026).
Ia menambahkan, berdasarkan pemantauan perusahaan, stok pupuk di Kalimantan Barat maupun wilayah Kalimantan secara umum masih berada pada level aman. "Di hampir seluruh kabupaten di Kalimantan, ketersediaan pupuk tersedia dan cukup untuk memenuhi kebutuhan petani," katanya.
Selain menyalurkan pupuk bersubsidi, PT Pupuk Indonesia juga memberikan bantuan pupuk non-subsidi kepada kelompok tani yang hadir dalam kegiatan Rembuk Tani di Kubu Raya. "Pada kegiatan ini kami menyerahkan sekitar tiga ton pupuk non-subsidi kepada kelompok tani sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan produktivitas pertanian," kata Wono.
Pupuk Indonesia berharap kombinasi antara subsidi pemerintah, harga yang lebih terjangkau, dan distribusi yang terjaga dapat mendorong peningkatan produksi pertanian. Dengan serapan yang terus meningkat dan stok yang tersedia, petani di Kalimantan Barat diharapkan bisa menjalani musim tanam dengan lebih tenang dan turut mendukung target swasembada pangan nasional.