PONTIANAK — Tiga tanaman yang selama ini dikenal masyarakat Kalimantan Barat sebagai obat tradisional mulai mendapatkan pembuktian ilmiah. Peneliti Universitas Andalas (UNAND) merampungkan studi awal yang menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak bawang dayak (Eleutherine palmifolia), sambilata (Phyllanthus niruri), dan daun sirsak (Annona muricata) memiliki efek sinergis dalam menghambat enzim pengubah angiotensin (ACE) dan menekan kadar gula darah pada uji laboratorium.
Selama ini, sebagian besar riset herbal hanya berfokus pada satu tanaman untuk satu penyakit. Tim UNAND justru menguji tiga tanaman sekaligus dalam satu formula. Hasilnya, kombinasi ini tidak hanya menurunkan tekanan darah, tetapi juga menghambat penyerapan glukosa di usus. "Ini potensi besar untuk pengembangan fitofarmaka yang bisa menjadi alternatif bagi pasien yang menderita kedua penyakit sekaligus," ujar ketua tim peneliti.
Bawang dayak sendiri selama puluhan tahun digunakan suku Dayak di Kalbar sebagai obat diabetes dan penurun kolesterol. Namun, baru dalam riset ini kandungan senyawa naftokuinonnya diuji secara terintegrasi dengan dua tanaman lain. Sambilata, yang dikenal sebagai tanaman obat ginjal, memperkuat efek antihipertensi, sementara daun sirsak menyediakan senyawa asetogenin yang bekerja pada sel beta pankreas.
Penelitian diawali dengan survei etnobotani di beberapa kabupaten di Kalbar, seperti Landak dan Sanggau, tempat masyarakat masih rutin mengonsumsi ramuan ini. Setelah itu, tim mengekstraksi bahan segar dan melakukan uji inhibitor ACE secara in vitro. Hasilnya menunjukkan aktivitas penghambatan hingga 78 persen pada konsentrasi tertentu, setara dengan obat golongan ACE inhibitor dosis rendah.
Peneliti menekankan bahwa temuan ini masih dalam tahap awal. Uji toksisitas dan uji klinis pada manusia belum dilakukan. "Kami belum merekomendasikan masyarakat membuat ramuan sendiri tanpa dosis yang pasti. Masih perlu penelitian lanjutan untuk menentukan takaran aman," tambahnya. Tim menargetkan pengembangan menjadi sediaan herbal terstandar dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Jika terbukti aman dan efektif, kombinasi tiga tanaman lokal Kalbar ini bisa menjadi alternatif pengobatan bagi 28 juta pasien diabetes dan 34 juta pasien hipertensi di Indonesia yang selama ini bergantung pada obat kimia sintetis.