KALIMANTAN BARAT — Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 13 poin di level Rp 17.681 per dolar AS. Namun, tekanan jual terhadap mata uang Garuda terus berlanjut hingga menembus level psikologis Rp 17.700. Sepanjang tahun berjalan, depresiasi rupiah sudah mencapai 6,25%.
Pelemahan rupiah bukan peristiwa tunggal. Hampir semua mata uang utama Asia tertekan oleh penguatan dolar AS pagi ini. Won Korea Selatan menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,74%, disusul baht Thailand yang turun 0,18%. Yen Jepang dan dolar Singapura masing-masing melemah 0,08% dan 0,09%. Rupee India dan yuan China juga tak berdaya, meski koreksinya lebih tipis.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tekanan eksternal masih menjadi momok utama bagi mata uang emerging market. Modal asing cenderung lari ke aset safe haven seperti dolar AS di tengah ketidakpastian global.
Analis Doo Financial Lukman Leong melihat ada sedikit angin segar dari mancanegara. Kekhawatiran pasar mereda setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menunda rencana serangan militer ke Iran. Namun, Lukman menekankan bahwa pelaku pasar masih mencermati kondisi fundamental dalam negeri yang dinilai rapuh.
“Rupiah berpotensi menguat meski terbatas. Sentimen eksternal membaik, tapi masalah domestik belum selesai,” ujar Lukman dalam keterangannya, Selasa (19/5).
Faktor kunci yang kini menjadi pusat perhatian adalah Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Pasar berekspektasi bank sentral akan menaikkan suku bunga acuan untuk menahan laju pelemahan rupiah. Langkah ini dianggap perlu meski berpotensi mengerem pertumbuhan ekonomi.
Ekspektasi kenaikan BI rate membuat investor cenderung wait and see. Mereka enggan mengambil posisi besar sebelum ada kepastian kebijakan. Lukman memperkirakan pergerakan rupiah hari ini akan berada dalam rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.700 per dolar AS.
Bagi importir, pelemahan rupiah ke level ini jelas menjadi pukulan telak. Biaya bahan baku impor membengkak, margin usaha tergerus, dan harga barang jadi berpotensi naik. Bagi investor pasar modal, volatilitas kurs menjadi sinyal waspada. Saham-saham yang sensitif terhadap nilai tukar, seperti sektor properti dan konsumer, biasanya langsung tertekan.
Di sisi lain, eksportir bisa menarik napas lega. Penerimaan dalam dolar AS kini bernilai lebih besar dalam rupiah. Namun, keuntungan ini hanya sementara jika pelemahan terus berlanjut tanpa kendali.
Investasi mengandung risiko. Perhatikan fundamental dan diversifikasi portofolio Anda.