PONTIANAK — Keberangkatan 14 pemuda asal Kayong Utara itu dilepas di Bandara Supadio Pontianak, Senin (18/5/2026). Program ini merupakan bagian dari upaya Pemkab Kayong Utara mencetak sumber daya manusia lokal yang siap bersaing di sektor industri strategis, khususnya hilirisasi aluminium.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kayong Utara, A. Azahari, mengatakan para peserta tidak hanya akan mempelajari teknologi peleburan aluminium. Mereka juga diharapkan menyerap budaya disiplin dan etos kerja yang menjadi ciri khas industri di Cina.
“Anak-anak kita harus memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Tidak hanya belajar teknologi industri, tetapi juga menyerap etos kerja dan kedisiplinan yang menjadi kekuatan mereka,” ujar Azahari.
Sebelum diberangkatkan, para peserta menjalani pembelajaran Bahasa Mandarin selama empat bulan. Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Universitas Tanjungpura dan Sekolah Tinggi Bahasa Harapan Bersama.
Salah satu peserta, Yusril Damara, mengaku perjuangan panjang itu akhirnya terbayarkan. Ia berharap ilmu yang didapat bisa langsung diterapkan untuk membangun daerahnya sendiri.
“Saya sangat bersyukur dan senang. Perjuangan selama empat bulan akhirnya terbayarkan. Saya ingin ikut membangun Kayong Utara agar semakin maju dengan adanya industri smelter ini,” kata Yusril.
Anggota DPD RI asal Kalimantan Barat, Daud Yordan, menekankan bahwa kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Ia berpesan agar para peserta kembali ke daerah setelah menyelesaikan pelatihan, bukan justru mencari kerja di luar.
“Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Setelah pulang nanti, mereka dipersiapkan untuk bekerja sesuai bidang dan keahlian masing-masing,” katanya.
Peserta lain, Zainir Oktaviani, menilai program ini menjadi ajang pembuktian bagi generasi muda daerah. Ia ingin menjadi inspirasi bagi pemuda Kayong Utara lainnya.
“Saya ingin menjadi inspirasi bagi adik-adik saya. Dukungan orang tua menjadi semangat terbesar saya sampai bisa berada di titik ini,” ungkap Zainir.
Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) di Kayong Utara dirancang sebagai pusat hilirisasi aluminium di Kalimantan Barat. Kehadiran smelter membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya banyak, tetapi juga kompeten secara teknis.
Program pengiriman pemuda ke Cina ini menjadi langkah konkret untuk mengisi kebutuhan tersebut. Dengan bekal pelatihan langsung di negara produsen aluminium terbesar dunia, para peserta diharapkan bisa menjadi tulang punggung operasional industri saat kembali ke tanah air.