PONTIANAK — Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan menegaskan bahwa provinsinya merupakan miniatur Indonesia yang utuh. Ia menyebut keberagaman suku, agama, budaya, dan bahasa yang hidup berdampingan di Kalbar bukanlah sumber perpecahan, melainkan modal sosial yang harus dirawat.
“Saya merasa bangga karena Kalimantan Barat merupakan miniatur Indonesia. Keragaman itu bukan penghalang, tetapi kekuatan yang harus terus kita pelihara bersama,” ujarnya di hadapan akademisi, tokoh nasional, dan unsur pemerintahan yang hadir.
Ancaman Multikrisis dan Peran Strategis Anak Muda
Norsan mengingatkan bahwa tantangan kebangsaan saat ini tidak hanya datang dari aspek ekonomi dan geopolitik. Perubahan sosial yang cepat, menurutnya, juga mampu menggerus cara pandang masyarakat terhadap identitas bangsa.
Ia secara khusus menyoroti posisi generasi muda. Mereka dinilai memiliki peran paling strategis dalam menentukan arah masa depan Indonesia. Namun, kecerdasan dan inovasi saja tidak cukup.
“Generasi muda harus menjadi agen perubahan yang tidak hanya cerdas dan inovatif, tetapi juga berintegritas dan berkomitmen menjaga persatuan,” tegas Norsan.
Semangat Kebangkitan Nasional sebagai Pedoman
Dalam kesempatan itu, orang nomor satu di Kalbar ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan nilai-nilai Pancasila dan semangat Kebangkitan Nasional sebagai pedoman hidup sehari-hari. Menurutnya, penguatan nilai kebangsaan menjadi fondasi untuk mewujudkan Kalimantan Barat yang maju, adil, dan sejahtera.
“Mari menjadikan semangat Kebangkitan Nasional dan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman untuk memperkuat persatuan dan membangun kehidupan yang harmonis,” ujarnya.
Apresiasi Ketua Umum IKAL Lemhannas
Ketua Umum DPP IKAL Lemhannas, Purnomo Yusgiantoro, yang turut hadir memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya seminar tersebut. Ia menilai forum seperti ini sangat krusial di tengah dinamika global yang terus berkembang.
“Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya. Seminar seperti ini penting dan perlu terus dilakukan secara berkesinambungan untuk memperkokoh wawasan kebangsaan,” ungkapnya.
Seminar bertema “Nilai Kebangkitan Nasional sebagai Cahaya di Tengah Pusaran Multikrisis Identitas Kebangsaan” ini diharapkan menjadi ruang dialog yang mampu memperkuat kesadaran kolektif masyarakat. Tujuannya jelas: menjaga toleransi dan identitas nasional di tengah zaman yang semakin kompleks.