KALIMANTAN BARAT — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam melarang ekspor diesel ke Prancis dan Jerman jika kedua negara itu menolak melepas cadangan bahan bakar mereka. Ancaman tersebut muncul di tengah krisis harga solar domestik AS yang melonjak akibat perang dengan Iran, dengan kerugian konsumen ditaksir menembus 100 miliar dolar AS. Langkah ini menempatkan sekutu-sekutu Eropa dalam posisi sulit karena ketergantungan mereka pada pasokan diesel Amerika semakin dalam sejak konflik Rusia-Ukraina meletus.
Reuters melaporkan bahwa pemerintahan Partai Republik telah menyampaikan pesan langsung kepada Prancis dan Jerman: lepaskan lebih banyak diesel dari cadangan nasional, atau risiko menghadapi larangan ekspor dari Amerika Serikat. Ancaman itu disampaikan saat harga solar di pasar global berada di level tertinggi sepanjang sejarah, imbas dari perang yang belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian.
Seorang sumber yang dikutip Reuters menyebut Gedung Putih menuntut Uni Eropa melepas 120 juta barel diesel dalam enam bulan ke depan. Angka itu jauh melampaui pelepasan cadangan yang biasanya dilakukan negara-negara Eropa dalam situasi darurat energi.
Permintaan tersebut dinilai tidak masuk akal oleh sejumlah analis energi karena kapasitas cadangan diesel Eropa tidak sebesar yang dibayangkan. Prancis dan Jerman selama ini menyimpan stok bahan bakar untuk kebutuhan musim dingin dan gangguan pasokan mendadak.
Ancaman Trump bertepatan dengan panggilan konferensi yang digelar Komisi Eropa bersama Jerman, Prancis, Italia, Irlandia, dan Inggris pada Kamis pekan lalu. Agenda utama pertemuan itu adalah menyusun strategi diesel bersama, termasuk kemungkinan melepas cadangan lebih awal.
Kementerian Energi Prancis menolak berkomentar saat dihubungi Reuters soal ancaman Trump. Namun seorang pejabat di Istana Elysee menyatakan Presiden Emmanuel Macron dan Trump tidak membahas isu ini saat bertemu di sela-sela Sidang Umum PBB di New York pekan lalu.
Pejabat itu menambahkan Macron akan menggelar konferensi video para pemimpin negara G7 untuk membahas lonjakan harga bahan bakar dan ketersediaan produk olahan minyak global. Salah satu agenda utamanya adalah koordinasi pelepasan cadangan bersama Badan Energi Internasional (IEA).
Larangan ekspor diesel AS akan menghantam ekonomi Eropa jauh lebih keras dibanding dampaknya bagi Amerika sendiri. Sejak invasi Rusia ke Ukraina, Eropa memang beralih besar-besaran ke diesel Amerika untuk menggantikan pasokan dari Rusia yang terkena sanksi.
Para pakar energi sebelumnya menilai larangan ekspor justru punya manfaat terbatas untuk menurunkan harga diesel di dalam negeri AS. Risiko kebijakan itu balik menggigit dinilai tinggi karena bisa memicu gangguan pasokan global yang malah menaikkan harga lebih jauh.
Sampai sekarang belum jelas apakah larangan ekspor diesel benar-benar bisa diterapkan secara hukum di Amerika. Mekanisme ekspor minyak dan produk olahan di AS melibatkan kontrak jangka panjang swasta yang sulit dibatalkan begitu saja oleh perintah eksekutif.
Ketergantungan Eropa pada diesel impor dari Amerika Serikat meningkat tajam dalam dua tahun terakhir. Sebelum perang Ukraina, Rusia memasok sekitar seperlima kebutuhan diesel Eropa, dan celah itu sebagian besar diisi oleh kilang-kilang AS.
Posisi itu membuat Eropa rentan terhadap tekanan politik Washington. Trump memanfaatkan kerentanan tersebut untuk memaksa sekutu-sekutunya menanggung beban krisis energi yang sebagian besar dipicu oleh kebijakan luar negerinya sendiri di Timur Tengah.
Belum ada kepastian apakah negara-negara Eropa akan menuruti tuntutan Trump atau menyusun rencana tandingan. Yang jelas, hubungan transatlantik yang dibangun sejak Perang Dunia II terus terkikis oleh kebijakan-kebijakan yang mengutamakan tekanan ketimbang kerja sama.