KALIMANTAN BARAT — Penggunaan asesor dari luar institusi menjadi sinyal baru dalam reformasi internal Polri. Ary Ginanjar, yang dikenal melalui pelatihan kecerdasan spiritual dan emosional, masuk dalam tim penilai untuk menjaring para calon brigadir jenderal. Keterlibatannya disebut sebagai bagian dari komitmen membangun tata kelola sumber daya manusia yang objektif dan tidak lagi bersifat tertutup.
Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo menekankan bahwa tantangan ke depan, mulai dari geopolitik hingga kejahatan siber, menuntut pemimpin yang adaptif. “Polri membutuhkan pemimpin yang adaptif, berintegritas, humanis, dan mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat melalui sistem kaderisasi yang objektif, transparan, dan berbasis meritokrasi,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Asisten SDM Kapolri Irjen Anwar menambahkan, assessment center kini bukan sekadar alat uji kompetensi. Instrumen ini berkembang untuk memetakan potensi kepemimpinan, kemampuan kolaborasi, dan kesiapan menghadapi perubahan teknologi. “Tujuannya bukan sekadar menilai seseorang layak atau tidak menduduki jabatan tertentu, tetapi menemukan potensi terbaik yang dimiliki setiap personel,” kata Anwar.
Ary Ginanjar memaparkan, dunia tengah memasuki era “Talentism”, di mana keunggulan organisasi ditentukan oleh kemampuan mengelola bakat manusia. Mengutip kajian World Economic Forum, ia menyebut kemampuan seperti kreativitas, pengaruh sosial, dan pengambilan keputusan menjadi faktor pembeda yang tak bisa digantikan kecerdasan buatan.
“Di masa depan, organisasi tidak lagi bersaing berdasarkan siapa yang memiliki sumber daya terbesar, tetapi siapa yang paling mampu menemukan, mengembangkan, dan menempatkan talenta terbaiknya secara tepat,” kata Ary. Ia mengapresiasi langkah Polri yang mulai membangun big data talenta untuk memetakan potensi personel secara presisi sebagai fondasi sistem meritokrasi.
Penguatan assessment center ini menjadi bagian dari transformasi SDM Polri yang sejalan dengan Grand Strategy Polri 2025-2045. Irjen Anwar menegaskan, setiap personel mendapat kesempatan sama untuk berkembang berdasarkan kompetensi dan integritas. “Inilah esensi meritokrasi yang terus diperkuat di lingkungan Polri,” tegasnya.
Langkah ini sekaligus menjawab rekomendasi KPRP yang mendorong penguatan sistem merit dalam kaderisasi dan pengisian jabatan strategis. Polri berharap, dengan melibatkan figur publik seperti Ary Ginanjar, proses asesmen perwira tinggi ke depan lebih kredibel dan mendapat kepercayaan publik.