KALIMANTAN BARAT — Pelindo Petikemas tidak hanya menyetor dividen, tetapi juga menggenjot investasi peralatan bongkar muat di sejumlah terminal. Langkah ini ditempuh untuk mempercepat distribusi logistik dan menekan biaya rantai pasok nasional.
Antonius Winardi menjelaskan, sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan sistem distribusi yang kuat agar harga barang tidak timpang antarwilayah. Menurutnya, pembangunan jalan tol dalam beberapa tahun terakhir sudah membantu, tetapi pengembangan pelabuhan dan tol laut masih perlu dioptimalkan.
“Bagaimana logistik supply chain di Papua itu bisa lebih baik sehingga perbedaan harga beberapa produk komoditas bisa dikurangi dan harganya menjadi lebih murah,” ujar Anton dalam keterangan resminya, pekan lalu.
Untuk mewujudkan efisiensi itu, Pelindo Petikemas menambah dan merelokasi alat bongkar muat di berbagai titik. Di Terminal Petikemas (TPK) Semarang, misalnya, sudah tiba empat unit Quay Container Crane (QCC) baru. Satu unit QCC tambahan juga dikirim ke IPCTPK Panjang.
Sementara itu, Terminal Petikemas Surabaya mendapat tambahan 14 unit Rubber Tyred Gantry (RTG) dan empat unit QCC untuk memperkuat kapasitas bongkar muat. Penguatan fasilitas juga menyasar terminal regional: satu unit RTG dikirim ke TPK Kendari, empat unit ke TPK Banjarmasin, dan satu unit ke TPK Nilam.
Di tahap produksi, dua unit QCC dan empat unit RTG tengah disiapkan untuk TPK Belawan. Dua unit QCC lainnya akan menuju TPK Perawang, dan dua unit RTG untuk Terminal Kijing. Pelindo Petikemas juga merelokasi dua unit QCC dari TPS Surabaya ke TPK Berlian.
Modernisasi ini diyakini bakal berdampak langsung pada efisiensi distribusi barang, khususnya di kawasan Indonesia Timur. Selama ini, biaya logistik yang tinggi menjadi penyebab utama mahalnya harga kebutuhan pokok di Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara.
Dengan kapasitas bongkar muat yang lebih besar dan alat yang lebih modern, waktu sandar kapal bisa dipangkas. Hal itu secara otomatis menekan biaya sewa kapal dan ongkos kirim, yang ujungnya menurunkan harga barang di tingkat konsumen.
Setoran Rp1,73 triliun ke negara tahun lalu menempatkan Pelindo Petikemas sebagai salah satu BUMN dengan kontribusi fiskal terbesar di sektor logistik. Ke depan, perseroan menargetkan efisiensi operasional yang lebih tinggi seiring rampungnya pengadaan alat-alat baru di berbagai terminal.