PONTIANAK — Lonjakan harga emas perhiasan kembali mendominasi tekanan inflasi di Kalimantan Barat sepanjang Mei 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar mencatat inflasi tahunan mencapai 3,29 persen, menandai tren kenaikan harga yang terus berlanjut sejak awal tahun.
Kepala BPS Kalbar menyebutkan bahwa emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi terbesar secara bulanan maupun tahunan. Selain emas, komoditas pangan seperti beras juga ikut mendorong kenaikan indeks harga konsumen. “Kenaikan harga beras masih terjadi karena faktor produksi dan distribusi,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (2/6/2026).
Faktor lain yang tak kalah signifikan adalah penyesuaian tarif LPG nonsubsidi. Kebijakan ini memengaruhi biaya energi rumah tangga dan sektor usaha kecil, terutama di Pontianak dan kota-kota penyangga. Lonjakan LPG nonsubsidi ikut menyumbang andil inflasi sebesar 0,08 persen secara month to month.
BPS Kalbar mencatat bahwa inflasi inti atau core inflation masih terkendali di kisaran 2,5 persen. Artinya, tekanan harga berasal dari komoditas yang bersifat fluktuatif atau diatur pemerintah. “Ini sinyal bahwa daya beli masyarakat masih perlu dijaga,” tambah Kepala BPS Kalbar.
Harga emas perhiasan di Kalbar terus merangkak naik seiring tren kenaikan harga emas global. Masyarakat Kalimantan Barat yang memiliki tradisi menyimpan kekayaan dalam bentuk emas ikut mendorong permintaan. Akibatnya, tekanan inflasi dari kelompok perhiasan dan logam mulia menjadi dominan.
Sementara itu, harga beras medium di pasar tradisional Pontianak tercatat naik rata-rata 5 persen sejak Maret lalu. BPS Kalbar mencatat kenaikan harga gabah di tingkat petani menjadi pemicu utama. Pemerintah daerah diharapkan segera menggelar operasi pasar untuk menekan harga di tingkat konsumen.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) tengah menyiapkan langkah stabilisasi harga. Fokus utama adalah mengamankan pasokan beras dan mempercepat distribusi LPG subsidi tepat sasaran. BPS Kalbar akan terus memantau pergerakan harga hingga semester kedua 2026.
Masyarakat diimbau untuk mencermati pola belanja dan memanfaatkan program pasar murah yang digelar pemda setempat. Inflasi Mei 2026 ini menjadi catatan penting bagi kebijakan ekonomi daerah ke depan.