Sekda Kalbar Harisson Soroti Kejanggalan Penilaian LCC Empat Pilar MPR RI, Minta Keadilan untuk Siswa SMANSA Pontianak

Penulis: Yoga Permadi  •  Selasa, 12 Mei 2026 | 15:10:57 WIB
Sekda Kalbar Harisson soroti proses penilaian LCC Empat Pilar MPR RI yang dinilai tidak objektif.

PONTIANAK — Polemik hasil Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat mendapat sorotan langsung dari Sekretaris Daerah Provinsi Kalbar, dr. Harisson. Ia mengkritik keputusan dewan juri yang dinilai tidak objektif dan memicu kontroversi di media sosial.

Harisson angkat bicara melalui kolom komentar unggahan Instagram @smansapnk_ dan kemudian menegaskan kembali pandangannya saat ditemui awak media pada Senin (11/5/2026). Menurutnya, sejumlah kejanggalan terjadi selama proses penjurian.

Juri Terpaku pada Teks, Bukan Substansi Jawaban

Harisson mengamati bahwa dewan juri terlihat tidak sepenuhnya memahami materi yang dilombakan. Alih-alih menilai substansi jawaban peserta, juri justru sibuk mencocokkan jawaban dengan teks yang tersedia di perangkat tablet.

"Juri itu terkesan tidak paham dengan materi yang ditanyakan. Sehingga dia harus membaca jawaban yang ada di tab-nya, lalu berusaha menyandingkannya dengan jawaban anak-anak. Di situ bisa terjadi salah paham," ujarnya.

Menurut Harisson, seorang juri idealnya memiliki penguasaan materi yang matang. Dengan begitu, ia bisa langsung menilai kebenaran substansi jawaban tanpa harus terpaku pada catatan.

"Kalau kita sudah paham materi yang ditanyakan, tidak perlu melihat tab. Cukup dengar jawaban peserta, kita sudah bisa menilai substansinya benar atau tidak," tegasnya.

Bahasa Tubuh Juri dan Keraguan yang Terlihat

Lebih lanjut, Sekda Kalbar juga menyoroti bahasa tubuh serta ekspresi dewan juri selama perlombaan berlangsung. Keraguan yang tampak dari para juri, menurutnya, berpotensi menggerus objektivitas penilaian dan hasil akhir kompetisi.

Ia mendorong penyelenggara, dalam hal ini MPR RI, untuk menggunakan alat perekam digital guna mengantisipasi protes serupa di masa mendatang. Rekaman dapat digunakan untuk memutar ulang momen-momen kritis saat terjadi perbedaan pendapat.

Harisson: Jangan Biarkan Rasa Ketidakadilan Membekas

Harisson secara khusus meminta agar rasa keadilan diberikan kepada siswa SMA Negeri 1 Pontianak (SMANSA) yang menjadi peserta. Ia khawatir pengalaman negatif ini akan meninggalkan kesan mendalam bagi para pelajar.

"Saya minta ada rasa keadilan yang harus diterima oleh anak-anak SMANSA. Jangan biarkan rasa ketidakadilan itu membekas di diri mereka," pungkasnya.

Hingga saat ini, polemik hasil LCC Empat Pilar MPR RI masih menjadi perbincangan hangat di media sosial. Sejumlah pihak mendesak penyelenggara untuk memberikan klarifikasi resmi dan melakukan evaluasi menyeluruh demi menjaga integritas kompetisi serta kepercayaan peserta terhadap proses penilaian.

Reporter: Yoga Permadi
Sumber: sekadau.suarakalbar.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top