PONTIANAK — Angka pengangguran di Kalimantan Barat kembali meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) provinsi ini pada Februari 2026 mencapai 4,57 persen, naik 0,34 persen poin dari 4,23 persen pada Februari 2025.
Kepala BPS Kalbar Muh Saichudin mengatakan, kenaikan itu terjadi seiring bertambahnya jumlah angkatan kerja. "Jumlah angkatan kerja pada Februari 2026 mencapai 3,04 juta orang atau bertambah 131,64 ribu orang dibandingkan Februari 2025," ujarnya di Pontianak, Senin.
Dari sisi pendidikan, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi kelompok yang paling sulit mendapatkan pekerjaan. BPS mencatat TPT lulusan SMK mencapai 5,87 persen, tertinggi dibanding jenjang pendidikan lain.
Sebaliknya, tingkat pengangguran terendah justru berasal dari lulusan Diploma I/II/III, yang hanya sebesar 2,79 persen. Sementara itu, penduduk bekerja di Kalbar masih didominasi tamatan SD ke bawah, yaitu 41,65 persen dari total pekerja.
Pasar tenaga kerja Kalbar masih didominasi sektor informal. Pada Februari 2026, sebanyak 1,70 juta orang atau 58,51 persen penduduk bekerja berada di sektor informal. Pekerja formal hanya 41,49 persen.
Proporsi pekerja paruh waktu juga meningkat menjadi 29,46 persen, naik 2,23 persen poin dibanding tahun sebelumnya. Sebaliknya, tingkat setengah pengangguran turun menjadi 9,07 persen.
Fenomena menarik terjadi berdasarkan wilayah tempat tinggal. Tingkat pengangguran di perkotaan tercatat 5,86 persen, lebih tinggi dibanding perdesaan yang hanya 3,63 persen. Namun, BPS mencatat TPT perkotaan justru mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya, sementara pengangguran di wilayah perdesaan meningkat.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penopang utama penyerapan tenaga kerja di Kalbar. Jumlah pekerja di sektor itu mencapai 1,33 juta orang, atau sekitar 45,70 persen dari total penduduk bekerja.
Sektor perdagangan besar dan eceran menyerap 12,45 persen tenaga kerja, sedangkan sektor industri menyumbang 6,68 persen.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Kalbar pada Februari 2026 mencapai 69,65 persen, naik 2,01 persen poin. Namun, kesenjangan gender masih terlihat jelas. TPAK laki-laki tercatat 84,60 persen, sementara perempuan hanya 53,89 persen.
Kondisi ini menunjukkan pasar tenaga kerja Kalbar masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam menciptakan lapangan kerja formal dan meningkatkan kualitas tenaga kerja di tengah pertumbuhan jumlah angkatan kerja yang terus meningkat setiap tahun.