Danantara Indonesia mulai mengonsolidasikan arah transformasi digital terhadap 60 perusahaan holding BUMN lintas sektor pada Kamis (7/5/2026). Langkah strategis ini bertujuan menciptakan orkestrasi terpadu guna meningkatkan efisiensi dan nilai tambah bagi negara melalui integrasi platform teknologi. Inisiatif ini menjadi krusial untuk memastikan setiap inisiatif digital di entitas plat merah tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
Konsolidasi besar-besaran ini menandai pergeseran arah pengelolaan aset digital negara. Danantara Indonesia kini mengambil peran sebagai dirigen yang menyelaraskan model bisnis, infrastruktur teknologi, hingga tata kelola data di seluruh ekosistem BUMN. Fokusnya tidak hanya pada pembaruan sistem internal, tetapi juga penguatan pengalaman pelanggan di sektor-sektor vital seperti perbankan, energi, dan telekomunikasi.
Proses transformasi ini tidak dilakukan secara serentak dalam satu waktu, melainkan melalui tahapan yang terukur. Dalam enam bulan pertama, Danantara akan fokus melakukan audit dan pengukuran kesiapan digital (digital readiness) di seluruh perusahaan pelat merah. Tahap awal ini sangat menentukan untuk membangun fondasi kolaborasi yang kuat sebelum masuk ke fase eksekusi yang lebih kompleks.
Guna memastikan rencana ini berjalan sesuai koridor, Danantara membentuk Digital Transformation Task Force. Satuan tugas ini berfungsi sebagai mekanisme tata kelola bersama yang menghubungkan level holding Danantara hingga ke unit-unit BUMN di lapangan. Dengan adanya task force ini, integrasi platform dan pemanfaatan kapabilitas bersama diharapkan bisa memangkas tumpang tindih investasi teknologi yang selama ini sering terjadi.
Langkah integrasi ini juga mencakup aspek keamanan siber yang lebih ketat. Danantara menyadari bahwa penggabungan data dan sistem dalam skala besar memerlukan proteksi berlapis, terutama dengan munculnya ancaman teknologi baru. Oleh karena itu, kesiapan terhadap Post-Quantum Readiness dan penguatan enkripsi data menjadi prioritas dalam peta jalan digital yang sedang disusun.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Danantara adalah pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia. Merujuk data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Indonesia setidaknya membutuhkan tambahan 600.000 talenta digital setiap tahun hingga 2030. Kelangkaan tenaga ahli ini menjadi isu serius yang harus segera diatasi agar target transformasi tidak terhambat oleh minimnya eksekutor di lapangan.
Selain masalah SDM, Danantara mendorong BUMN untuk lebih agresif mengadopsi teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan Advanced Analytics. Pemanfaatan teknologi ini diharapkan mampu memberikan prediksi pasar yang lebih akurat dan operasional yang lebih efisien. Transformasi ini diarahkan agar BUMN mampu beradaptasi dengan dinamika industri global yang kini sangat bergantung pada pengolahan data berbasis mesin.
Chief Technology Officer Danantara Indonesia, Sigit Puji Santosa, menekankan bahwa sinkronisasi adalah kunci utama dalam menghadapi disrupsi teknologi. Menurutnya, tanpa koordinasi yang matang, investasi digital yang besar di masing-masing BUMN hanya akan menjadi pengeluaran yang tidak memberikan dampak maksimal bagi negara secara keseluruhan.
“Danantara Indonesia memiliki peran sentral untuk menyelaraskan arah, platform, talenta, dan tata kelola agar setiap inisiatif digital di BUMN tidak berjalan secara terpisah, melainkan mampu menghasilkan efisiensi, peningkatan kinerja, serta nilai tambah kolektif bagi negara. Penyelarasan tersebut menjadi fondasi penting bagi penguatan daya saing BUMN di tengah perubahan teknologi dan dinamika industri yang semakin cepat,” ungkap Sigit Puji Santosa dalam keterangan resminya.
Upaya sinkronisasi ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antar BUMN, misalnya antara sektor perbankan seperti BRI dengan sektor telekomunikasi seperti Telkom dalam membangun ekosistem finansial digital yang lebih inklusif. Melalui integrasi ini, Danantara ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang diinvestasikan untuk teknologi mampu memperkuat posisi BUMN di pasar domestik maupun internasional.