PONTIANAK — Grup Orkes Bahagia membawakan sekitar 15 lagu hits sepanjang pertunjukan, dari judul-judul klasik hingga "Yang Hujan Turun Lagi", dengan aransemen gaya orkes rakyat khas mereka. Respon langsung terlihat: pengunjung langsung memadati area panggung dan turut berjoget ria, termasuk pedagang UMKM dari berbagai stand kuliner dan produk lokal yang tersebar di venue.
Musik orkes menampilkan daya tarik lintas generasi. Beli, salah satu pengunjung, mengakui untuk pertama kalinya mendengarkan musik jenis ini saat dewasa. "Musiknya asyik untuk berjoget. Orkes ini memang betul-betul menghipnotis. Ketika mendengarnya, badan lantas diajak ikut bergoyang. Natural saja," ujarnya.
Sebagai Gen Z, Beli menemukan aliran musik orkes bisa diterima kaum mudanya. Dia juga menghargai konsep event yang memadukan hiburan gratis dengan akses ke stand UMKM dengan harga terjangkau. "Kegiatan ini bagus. Selain bisa berkunjung ke stand-stand yang menjual berbagai kuliner dengan rasa enak, harganya juga pas di kantong," katanya, mengharapkan penyelenggaraan tahun depan lebih semarak.
Di balik hiburan, Saprahan Khatulistiwa 2026 mengusung tema "Mendorong Transformasi UMKM dan Pariwisata untuk Kalimantan Barat yang Berdaya Saing". Doni Septadijaya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalbar, menjelaskan tiga tujuan strategis utama event itu.
Pertama, penguatan kelembagaan UMKM agar terintegrasi dalam rantai pasok yang lebih luas dan berkelanjutan melalui fasilitas business matching. Kedua, perkuatan sinergi pengembangan UMKM dan pariwisata Kalbar untuk meningkatkan eksposur pasar potensial. Ketiga, ekspansi keuangan inklusif melalui adopsi sistem pembayaran digital bagi sektor UMKM dan jasa pariwisata.
"Melalui seluruh rangkaian kegiatan tersebut, Bank Indonesia Kalbar komitmen untuk memperkuat peran sebagai penggerak pengembangan ekonomi daerah, khususnya dalam menciptakan UMKM lokal yang inklusif, terdigitalisasi, dan berdaya saing global," ujar Doni, menyebut kesuksesan event bergantung pada kolaborasi berbagai pihak.