Pencarian

Beras Fortifikasi vs Beras Biasa: Panduan Lengkap untuk Ibu di Rumah

Sabtu, 19 September 2026 • 09:22:01 WIB
Beras Fortifikasi vs Beras Biasa: Panduan Lengkap untuk Ibu di Rumah

KALIMANTAN BARAT — Pemerintah menemukan sejumlah produk yang mengklaim sebagai beras fortifikasi, tetapi kandungan gizinya tidak sesuai dengan informasi di kemasan. Supaya tidak salah pilih, yuk pahami perbedaan beras fortifikasi dan beras biasa, mulai dari zat gizi tambahan hingga standar mutunya.

Beras fortifikasi sudah diatur dalam standar khusus yang mencakup kandungan gizi hingga mutunya. Simak penjelasannya berikut ini sebelum memutuskan beras mana yang cocok untuk keluarga.

Apa Itu Beras Fortifikasi?

Beras fortifikasi adalah beras yang telah melalui proses penambahan zat gizi tertentu. Prosesnya dilakukan dengan mencampurkan kernel beras fortifikan ke dalam beras sosoh dengan proporsi tertentu.

Kernel tersebut bentuknya dibuat menyerupai butiran beras dan sudah diperkaya vitamin serta mineral. Pencampuran dilakukan secara merata supaya zat gizi tambahan tersebar dalam produk.

Jadi, perbedaan utamanya bukan pada bentuk nasi setelah dimasak. Yang membedakan adalah adanya tambahan vitamin dan mineral sesuai standar yang berlaku.

Beda Beras Biasa dan Beras Fortifikasi

Beras biasa dan beras fortifikasi sama-sama berasal dari beras sebagai bahan pangan pokok. Kandungan gizi beras biasa berasal dari beras itu sendiri, dipengaruhi jenis beras serta proses penggilingan dan pengolahannya.

Sementara beras fortifikasi mendapat tambahan zat gizi tertentu lewat proses fortifikasi. Tambahan inilah yang menjadi pembeda utama antara keduanya.

Zat Gizi Apa Saja yang Ditambahkan?

Berdasarkan SNI 9372:2025 tentang Beras Fortifikasi, ada persyaratan kandungan zat gizi yang harus dipenuhi. Zat gizi tersebut meliputi vitamin B1, asam folat, vitamin B12, zat besi, dan seng.

Dalam setiap 100 gram beras fortifikasi, vitamin B1 ditetapkan minimal 0,25 mg. Asam folat berada di kisaran 0,25-0,38 mg, vitamin B12 sebesar 1-1,5 mcg, zat besi 3,50-5,25 mg, dan seng 3-4,5 mg.

Mengapa Tambahan Zat Gizi Ini Penting?

Fortifikasi menjadi salah satu strategi untuk membantu menekan risiko kekurangan zat gizi mikro. Beras dipilih sebagai media fortifikasi karena merupakan pangan pokok yang dikonsumsi luas masyarakat Indonesia.

Zat besi diperlukan untuk pembentukan hemoglobin. Kekurangannya bisa mengganggu proses tersebut dan meningkatkan risiko anemia defisiensi besi. Asam folat dibutuhkan dalam pembentukan dan pembelahan sel, sedangkan vitamin B12 berperan dalam pembentukan sel darah merah serta fungsi sistem saraf.

Vitamin B1 membantu metabolisme energi. Seng diperlukan dalam berbagai proses biologis, termasuk pertumbuhan dan fungsi sistem imun.

Standar Mutu yang Harus Dipenuhi

Beras fortifikasi bukan sekadar beras yang diberi tambahan vitamin lalu dipasarkan dengan label "fortifikasi". Ada persyaratan mutu yang harus dipenuhi sesuai SNI 9372:2025.

Persyaratan tersebut mencakup warna normal, tekstur normal, aroma normal, kadar air maksimal 14%, hingga tingkat homogenitas maksimal 15%. Indonesia juga memiliki SNI 9314:2024 tentang Kernel Beras Fortifikan yang mengatur kernel yang digunakan dalam proses fortifikasi.

Jadi, Mana yang Sebaiknya Dipilih?

Beras fortifikasi punya nilai tambah berupa vitamin dan mineral tambahan yang ditujukan untuk meningkatkan asupan mikronutrien. Namun, beras biasa tetap bisa menjadi bagian dari pola makan bergizi seimbang.

Tidak adanya tambahan vitamin dan mineral melalui fortifikasi tidak membuat beras biasa jadi pangan yang tidak sehat. Pilihan beras fortifikasi bisa menjadi salah satu cara mendapatkan tambahan gizi melalui pangan pokok.

Yang terpenting, kebutuhan zat gizi keluarga tetap perlu dipenuhi melalui pola makan beragam. Sertakan sumber protein, sayur, buah, kacang-kacangan, dan berbagai kelompok pangan lain dalam menu harian.

Yang Perlu Diperhatikan Saat Membeli

Kalau memilih beras fortifikasi, pastikan produknya memenuhi standar yang berlaku. Cek label kemasan dengan teliti dan pilih produk dari produsen terpercaya.

Ingat, temuan pemerintah soal produk abal-abal menunjukkan bahwa tidak semua yang berlabel "fortifikasi" benar-benar sesuai standar. Jangan ragu bertanya ke penjual atau mencari informasi resmi dari Badan Standardisasi Nasional (BSN) jika ragu.

Pada akhirnya, baik beras fortifikasi maupun beras biasa bisa menjadi pilihan yang tepat. Kuncinya adalah memastikan asupan gizi keluarga terpenuhi dari sumber yang beragam dan aman.

Follow kabarsingkawang.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: health.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks