KALIMANTAN BARAT — Langkah ini menandai ekspansi Rakuten ke industri pertahanan yang sebelumnya asing baginya. Melalui perjanjian awal yang difasilitasi Rakuten, pemerintah Jepang dikabarkan akan menggunakan sistem drone buatan Helsing. Kerja sama ini menjadi pintu masuk bagi Helsing, yang selama ini identik dengan pasokan drone untuk Ukraina, untuk menembus pasar Asia.
Peran Baru Rakuten di Sektor Pertahanan
Rakuten, yang dikenal luas sebagai raksasa e-commerce dan fintech, ternyata memiliki ambisi di luar bisnis intinya. Perusahaan ini kini bertindak sebagai broker lokal yang menghubungkan Helsing dengan Pasukan Bela Diri Darat Jepang (GSDF).
Hideaki Mukai, Chief of Staff CEO Rakuten, menyatakan bahwa startup menghadapi hambatan struktural besar saat ingin masuk industri pertahanan Jepang, seperti sistem pengadaan yang rumit dan sulitnya akses ke instansi pemerintah.
"Mendorong partisipasi yang lebih besar bagi startup di industri pertahanan Jepang menghadirkan peluang penting untuk memperkuat kemampuan pertahanan negara," ujar Mukai. Rakuten berharap dapat menjembatani kesenjangan ini dengan menghubungkan startup dan teknologi baru dengan kebutuhan instansi pemerintah.
Uji Coba Drone HX-2 dan Jejak Kolaborasi Sebelumnya
Uji coba drone HX-2 yang dilakukan Helsing merupakan langkah krusial. Drone serang ini dirancang sebagai amunisi berkeliaran (loitering munition) yang mampu terbang mandiri dan menyerang target secara presisi. Pengujian yang berlangsung sejak awal 2026 ini akan menjadi evaluasi utama sebelum potensi pengadaan massal.
Ini bukan kali pertama Rakuten bermain di ranah teknologi militer. Sebelumnya, pada akhir April, Rakuten membantu Swarmer, pengembang perangkat lunak drone asal Ukraina, untuk mendemonstrasikan teknologinya ke unit militer Jepang. Uji coba itu menggunakan perangkat lunak AI untuk mengoordinasikan sekawanan drone dalam misi cari-dan-serang di wilayah udara Jepang.
Founder Rakuten, Hiroshi Mikitani, memang dikenal sebagai salah satu pendukung paling vokal Ukraina sejak perang pecah pada 2022. Perusahaannya juga rutin membantu perusahaan pertahanan Ukraina memamerkan produk mereka di pameran senjata di Jepang.
Mengapa Perusahaan Asing Berbondong-bondong ke Jepang?
Ketertarikan perusahaan pertahanan asing ke Jepang bukan tanpa alasan. Jepang tengah meningkatkan belanja militernya secara signifikan dan melonggarkan pembatasan ekspor senjata. Kondisi ini menciptakan pasar baru yang menarik bagi vendor teknologi pertahanan global yang mencari mitra lokal untuk menavigasi regulasi yang kompleks.
Bagi Helsing, pasar Jepang adalah peluang besar. Startup yang berdiri pada 2021 ini awalnya fokus pada perangkat lunak AI untuk analisis data medan perang. Kini, mereka telah berekspansi ke drone serang otonom, sistem pengawasan bawah air, dan aplikasi pesawat militer di berbagai negara.
Helsing memegang kontrak dengan sejumlah pemerintah Eropa dan memasok drone ke Ukraina dengan pendanaan dari pemerintah Jerman. Posisinya semakin kuat setelah berhasil mengumpulkan dana segar sebesar USD 1,8 miliar (sekitar Rp 29,7 triliun) dalam satu putaran pendanaan pada Juli 2026. Investasi ini menjadikan Helsing sebagai startup teknologi pertahanan dengan pendanaan terbesar di Eropa.
Status Resmi dan Prospek ke Depan
Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari Pasukan Bela Diri Darat Jepang mengenai pengaturan kerja sama ini. Namun, uji coba yang masih berjalan hingga September 2026 akan menjadi penentu apakah teknologi Helsing memenuhi standar kebutuhan militer Jepang.
Jika sukses, kolaborasi ini bisa menjadi model baru bagi perusahaan asing yang ingin menembus pasar pertahanan Jepang, sekaligus memperkuat ekosistem startup pertahanan lokal yang selama ini sulit berkembang.