Pencarian

Presiden Iran Peringatkan Nasib Gaza Tanpa Rudal, Tegaskan Program Pertahanan Tak Bisa Ditawar

Rabu, 24 Juni 2026 • 08:53:31 WIB
Presiden Iran Peringatkan Nasib Gaza Tanpa Rudal, Tegaskan Program Pertahanan Tak Bisa Ditawar
Presiden Iran menegaskan program rudal sebagai kunci pertahanan nasional dari ancaman eksternal.

KALIMANTAN BARAT — Pezeshkian secara terbuka mengaitkan keberadaan rudal dengan eksistensi Iran di tengah tekanan militer Israel dan Amerika Serikat. Ia menyebut program rudal sebagai satu-satunya penjamin keamanan yang mencegah negaranya dari kehancuran massal serupa yang terjadi di Gaza.

“Jika rudal yang kita miliki untuk pertahanan kita tidak ada, Israel dan Amerika Serikat akan menghancurkan Iran seperti Gaza, tanpa ampun kepada yang tua maupun yang muda,” kata Pezeshkian dalam kunjungannya ke Pakistan, melansir Al Arabiya dan AFP.

Penolakan Negosiasi dan Respons atas Serangan 28 Februari

Pezeshkian menolak mentah-mentah tawaran negosiasi yang mencakup program rudal balistik. “Kami tidak akan pernah bernegosiasi dengan siapa pun, dalam keadaan apa pun, tentang kemampuan pertahanan kami,” tegasnya.

Sikap keras ini muncul di tengah eskalasi regional yang dipicu serangan pada 28 Februari yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat tinggi lainnya. Sebagai respons, Iran meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Israel serta fasilitas-fasilitas yang terkait dengan Amerika Serikat di negara-negara tetangga.

Sejarah Pengembangan Rudal dan Pandangan Israel

Program rudal balistik Iran awalnya dikembangkan pada era perang dengan Irak di tahun 1980-an. Saat itu, rudal menjadi alat untuk mengimbangi kelemahan pertahanan udara Iran. Sejak saat itu, jangkauan dan akurasi rudal-rudal tersebut terus ditingkatkan.

Bagi Israel, yang berjarak sekitar 1.500 kilometer dari Iran, program rudal balistik Teheran dipandang sebagai ancaman eksistensial. Negeri para Mullah telah lama menjadi musuh bebuyutan Israel di kawasan Timur Tengah.

Sikap Amerika Serikat yang Berubah

Sebelum perang pecah, Washington terus mendesak agar rudal balistik dan dukungan Iran terhadap proksi bersenjata dimasukkan dalam negosiasi aktivitas nuklir. Namun dalam beberapa hari terakhir, Presiden AS Donald Trump justru melunakkan pendiriannya.

“Saya mengatakan bahwa jika negara lain memilikinya, agak tidak adil jika mereka tidak memilikinya,” ujar Trump pekan lalu dalam KTT G7 di Prancis. Pernyataan ini menandai pergeseran sikap dari tekanan sebelumnya untuk melucuti kemampuan rudal Iran.

Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengkonfirmasi bahwa perjanjian pendahuluan yang ditandatangani oleh Amerika Serikat dan Iran, bersama mediator, tidak menyebutkan soal rudal balistik. Hal ini memperkuat posisi Teheran bahwa program tersebut berada di luar meja perundingan.

Bagikan
Sumber: voi.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks