LANDAK — Seorang pendidik di Kabupaten Landak, Ya' Hari Purwadi, menilai kembalinya siswa ke bangku sekolah usai Belajar Dari Rumah (BDR) akibat kabut asap karhutla membawa misi yang melampaui target akademis. Menurutnya, tantangan terbesar pembelajaran jarak jauh selama beberapa pekan terakhir bukan soal stabilitas sinyal atau ketersediaan kuota internet.
Persoalan sesungguhnya, kata dia, adalah menjaga konsistensi interaksi psikologis dan fokus belajar siswa ketika ruang akademis berpindah ke lingkungan rumah. Interaksi dua arah kerap tidak berjalan seoptimal saat berada di kelas formal. Beberapa tugas mandiri pun memerlukan waktu penyelesaian lebih panjang dari biasanya karena ritme belajar yang berubah.
Fenomena itu dinilai wajar dalam psikologi perkembangan remaja. Tanpa kehadiran fisik penuntun di depan kelas dan hilangnya atmosfer kompetisi sehat antarteman sebaya, gawai yang menjadi media belajar utama menyimpan tantangan pengalih perhatian yang besar.
Kejenuhan menatap layar dalam durasi lama serta hilangnya rutinitas sekolah formal secara perlahan mengaburkan batasan waktu produktif anak-anak. Ya' Hari menegaskan hal ini sebagai tantangan proses adaptasi yang dialami semua pihak, bukan kesalahan personal para siswa.
Langkah awal terbaik di ruang kelas, menurut Ya' Hari, bukanlah langsung menuntaskan tumpukan materi kurikulum yang sempat tertunda. Momentum tatap muka dinilai sebagai kesempatan emas bagi ekosistem pendidikan untuk melakukan pemulihan emosional.
Pemulihan itu mencakup pembangunan kembali motivasi intrinsik serta penataan ulang kedisiplinan belajar anak secara perlahan dan persuasif. Pendekatan humanis menjadi kunci utama dalam proses tersebut.
"Ruang kelas dapat dibuka dengan dialog ringan yang setara, mendengarkan apa saja titik jenuh dan kendala yang dihadapi anak-anak selama belajar mandiri di rumah," tulis Ya' Hari dalam refleksinya.
Melalui pendekatan dari hati ke hati, guru tidak sedang mengevaluasi untuk mencari kekurangan. Langkah ini sekaligus menjadi momen menghidupkan kembali etika berkomunikasi, budaya saling mendengarkan, serta kontak mata yang sempat terbatas di balik layar monitor.
Ikhtiar memulihkan ritme belajar tidak bisa diletakkan di pundak sekolah atau guru semata. Kemitraan harmonis antara sekolah dan orang tua di rumah tetap menjadi pilar penopang utama.
Komunikasi yang suportif dari orang tua akan memastikan pembiasaan baik dan kedisiplinan yang mulai ditanamkan kembali di sekolah dapat terjaga konsistensinya hingga di rumah. Tanpa dukungan itu, ritme belajar yang baru terbangun berisiko kembali longgar.
Kabut asap akibat bencana musiman perlahan berangsur pergi dari langit Kalimantan Barat. Ya' Hari mengajak seluruh ekosistem pendidikan—guru, orang tua, dan masyarakat—bergandengan tangan mengurai sisa-sisa kejenuhan yang sempat menggelayuti mental anak didik.
Menyambut mereka kembali dengan ruang kelas yang hangat, pendampingan yang konsisten, serta kehadiran utuh sebagai pamong dinilainya sebagai suaka terbaik bagi masa depan generasi bangsa.