Badan Pusat Statistik Kalimantan Barat mencatat inflasi tahunan provinsi itu mencapai 4,35 persen pada September 2026, melampaui inflasi nasional 3,28 persen. Tekanan harga pangan, terutama cabai rawit dan sayuran, menjadi penyumbang terbesar kenaikan tersebut. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami kenaikan hingga 7,02 persen secara tahunan.
PONTIANAK — Cabai rawit dan sejumlah sayuran seperti kangkung, sawi hijau, bayam, serta ketimun tercatat sebagai penyumbang utama inflasi bulanan Kalbar yang mencapai 0,79 persen. Data itu diungkapkan Statistisi Ahli Madya BPS Kalbar Sri Suyatmi dalam rilis Berita Resmi Statistik.
Selain komoditas hortikultura, tekanan inflasi tahunan juga datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik 7,02 persen. Minyak goreng, beras, dan ikan baung turut memberi andil kenaikan harga.
"Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, terutama cabai rawit dan sayuran, memberikan andil terhadap inflasi Kalbar pada September," kata Sri Suyatmi.
Kelompok transportasi menyusul dengan kenaikan 5,58 persen secara tahunan. Pelumas atau oli mesin, tarif angkutan udara, dan biaya pemeliharaan servis menjadi pemicunya.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya naik 4,57 persen. Emas perhiasan dan tarif gunting rambut pria disebut sebagai penyumbang utama.
BPS Kalbar mencatat sebelas kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga secara tahunan. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga naik 2,20 persen.
Perlengkapan dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik 2,39 persen, sementara kesehatan 1,16 persen. Kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran mengalami kenaikan 2,11 persen.
Pendidikan naik 2,07 persen, diikuti informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 1,41 persen, serta rekreasi, olahraga, dan budaya 1,43 persen.
Di tengah tekanan harga, sejumlah komoditas justru memberikan andil deflasi. Bawang merah, telur ayam ras, sabun mandi cair, dan biskuit tercatat mengalami penurunan harga.
Secara bulanan, inflasi Kalbar September 2026 tercatat 0,79 persen. Sementara inflasi tahun berjalan mencapai 3,64 persen.
Angka inflasi tahunan Kalbar 4,35 persen berada di atas capaian nasional 3,28 persen. Tekanan harga pangan masih mendominasi pergerakan indeks harga konsumen provinsi itu.