Sarwendah Bujuk Anak Bertemu Ruben Onsu, Hasil Tes Psikologi Terungkap

Penulis: Yoga Permadi  •  Sabtu, 03 Oktober 2026 | 09:21:31 WIB
Kuasa hukum Sarwendah Tan, Pablo Benua, menyampaikan hasil tes psikologi anak dalam sidang gugatan hak asuh di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (2/10/2026).

KALIMANTAN BARAT — Kuasa hukum Sarwendah Tan, Pablo Benua, mengungkap hasil tes psikologi anak-anak dalam sidang gugatan hak asuh yang diajukan Ruben Onsu. Tes tersebut menemukan persepsi keliru di benak anak: mereka merasa seperti diusir saat diminta bertemu sang ayah. Simak fakta lengkap dan pelajaran pentingnya untuk ibu yang sedang menghadapi situasi serupa.

Pablo Benua menyampaikan temuan itu di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, pada Jumat (2/10/2026). Ia menegaskan hasil tes psikologi tidak bisa direkayasa dan mencerminkan isi pikiran anak-anak yang sebenarnya.

Sarwendah Tan disebut berulang kali merayu kedua putrinya agar mau menghabiskan waktu bersama Ruben Onsu. Niat itu justru ditolak anak-anak, dan penolakan tersebut terungkap lebih dalam lewat pemeriksaan kejiwaan bersama tenaga profesional.

Apa Isi Hasil Tes Psikologi Anak?

Pablo menjelaskan, anak-anak memunculkan kesan bahwa mereka seolah diusir oleh ibunya ketika diminta bertemu ayahnya. Persepsi itu muncul dari dalam pikiran anak, bukan dari pernyataan langsung Sarwendah.

"Bahkan ketika anak-anak dilakukan tes psikologi, ada kesan—ini hasil dari tes psikologi yang enggak bisa dibohongi, gitu ya—ada kesan anak-anak yang timbul di pikirannya bahwa seakan-akan Sarwendah mengusir anak-anak ketika menyuruh mereka bertemu dengan Saudara Ruben. Itu timbul di pikiran anak-anak dan itu sudah dilakukan tes psikologi," kata Pablo Benua.

Mengapa Anak Bisa Merasa Seperti Di Usir?

Anak yang tumbuh di tengah konflik orang tua sering menangkap sinyal yang tidak pernah disampaikan secara langsung. Mereka bisa salah membaca nada bicara, gestur, atau suasana rumah, lalu menyimpannya sebagai keyakinan yang sulit dibongkar.

Psikolog anak menyebut fenomena ini sebagai persepsi terdistorsi. Anak tidak berbohong, tetapi cara mereka memaknai sebuah permintaan bisa jauh dari maksud sebenarnya. Inilah alasan pemeriksaan psikologi dinilai penting dalam sengketa hak asuh.

Yang Perlu Ibu Pahami soal Hak Asuh Anak

Dalam gugatan hak asuh, pengadilan tidak hanya melihat siapa yang lebih mampu secara materi. Faktor psikologis anak, kedekatan emosional, dan pola pengasuhan sehari-hari menjadi pertimbangan utama.

  • Hasil tes psikologi biasanya dipakai hakim untuk melihat kondisi kejiwaan anak, bukan untuk menghukum salah satu pihak.
  • Anak berhak tetap berhubungan dengan kedua orang tua selama tidak ada risiko kekerasan.
  • Komunikasi orang tua di depan anak sangat memengaruhi cara anak memandang satu sama lain.

Kapan Perlu Bantuan Psikolog Anak?

Bila anak mulai menolak bertemu salah satu orang tua, menarik diri, atau menunjukkan kemarahan yang tidak wajar, jangan dipaksa. Konsultasikan ke psikolog anak agar akar persoalannya terlihat jelas.

Tangani segera jika muncul tanda seperti sulit tidur, penurunan nafsu makan, prestasi sekolah menurun, atau anak bicara soal tidak ingin pulang ke rumah. Anak butuh ruang aman untuk bercerita tanpa takut menyakiti salah satu orang tua.

Kasus Sarwendah dan Ruben Onsu menunjukkan satu hal penting: persepsi anak bisa berbeda jauh dari niat orang tuanya. Menjaga komunikasi yang jernih dan melibatkan ahli saat dibutuhkan adalah cara paling sehat untuk melindungi buah hati di tengah situasi sulit.

Reporter: Yoga Permadi
Sumber: lifestyle.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top