KALIMANTAN BARAT — Fox, perusahaan media di balik siaran olahraga dan Fox News, resmi mengumumkan niatnya untuk membeli Roku. Kesepakatan senilai USD 22 miliar ini telah memasuki tahap perjanjian, di mana Roku akan beroperasi sebagai platform yang "terbuka dan ramah mitra" di bawah kepemilikan Fox.
Dalam siaran pers bersama, kedua perusahaan menjelaskan bahwa transaksi ini menggabungkan konten unggulan Fox—olahraga langsung, berita, dan hiburan—bersama layanan streaming Tubi, dengan platform TV terhubung Roku, saluran The Roku Channel, serta data pihak pertama dari lebih dari 100 juta rumah tangga streaming global.
Fox dan Roku berkomitmen untuk terus mengoperasikan Roku sebagai platform terbuka. Mereka juga akan memastikan distribusi konten Fox tetap ada di mana-mana. Secara pro forma, perusahaan gabungan ini akan menjadi pemain nomor tiga terbesar di televisi AS berdasarkan pangsa penonton.
CEO Roku, Anthony Wood, dalam pernyataannya menyebut bahwa "kombinasi dengan Fox adalah peluang luar biasa untuk mempercepat visi kami, berkembang lebih cepat, dan berinovasi lebih agresif bagi pemirsa, mitra, dan pengiklan."
Belum jelas perubahan apa yang akan terjadi pada platform Roku setelah merger. Namun, kabar ini cukup mengejutkan mengingat Roku baru saja mengumumkan perubahan besar pada layar utama mereka pada Mei lalu. Sebelumnya tahun ini, Roku diperkirakan menguasai sekitar 30 persen pasar Amerika Serikat.
Kedua perusahaan menyoroti "manfaat strategis utama" dari akuisisi ini, termasuk peningkatan skala dan jangkauan, serta penciptaan platform streaming yang lebih kuat. Distribusi dan keterlibatan ini mencakup setiap lingkungan menonton utama—siaran, kabel, lokal, dan streaming—menciptakan jangkauan yang luas dan beragam yang menguntungkan pemirsa, mitra, dan pengiklan.
Kesepakatan ini dijadwalkan akan rampung pada paruh pertama tahun 2027. Dengan penggabungan ini, Fox dan Roku tidak hanya bersaing di konten, tetapi juga di data dan teknologi iklan—dua pilar utama industri streaming saat ini.
Sebelum kabar akuisisi ini, Roku telah merilis sejumlah pembaruan. Mereka meluncurkan desain ulang layar utama dengan pengaturan aplikasi berbasis AI dan fitur 'Top Picks'. Pembaruan berikutnya juga menambahkan dukungan suara AI untuk menjawab pertanyaan seputar trivia.
Di sisi lain, TV Philips 'Ambilight' akhirnya hadir di AS dengan lampu strip bawaan, namun tanpa Google TV. Ini menunjukkan bahwa lanskap perangkat keras TV juga terus bergerak dinamis.
Bagi konsumen Indonesia, akuisisi ini mungkin belum berdampak langsung. Namun, langkah Fox membeli Roku menegaskan satu hal: pertempuran di industri streaming tidak lagi hanya soal konten, tetapi juga soal platform, data, dan siapa yang menguasai layar di rumah Anda.