BENGKAYANG — Di balik hiruk pikuk perkebunan sawit dan aktivitas pertambangan modern, Kecamatan Monterado menyimpan narasi sejarah yang berbeda. Wilayah ini merupakan salah satu titik penting dari jejak peradaban kongsi-kongsi Tionghoa yang pernah berjaya di Kalimantan Barat pada abad ke-18 dan 19. Sisa-sisa aktivitas tambang emas tradisional, seperti lubang-lubang galian tua dan fondasi bangunan, masih bisa ditemukan tersebar di beberapa desa.
Monterado tidak bisa dilepaskan dari sejarah kedatangan imigran Tionghoa yang membentuk organisasi dagang atau kongsi. Kongsi-kongsi ini, seperti Kongsi Lanfang yang terkenal, mengelola pertambangan emas dengan sistem yang terorganisir. Jejak ini menjadi warisan budaya yang unik, berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Peninggalan seperti klenteng tua dan ritual adat yang masih lestari menjadi bukti akulturasi yang telah berlangsung berabad-abad.
Selain sejarah, Monterado juga memiliki potensi geografis yang menjanjikan. Letaknya yang berada di daerah perbukitan dengan aliran sungai yang cukup deras memberikan peluang untuk pengembangan wisata alam. Beberapa titik air terjun dan pemandangan alam perbukitan mulai diidentifikasi sebagai destinasi potensial. Pemerintah daerah setempat disebut-sebut tengah memetakan potensi ini untuk dimasukkan dalam rencana pengembangan pariwisata Kabupaten Bengkayang.
Masyarakat Monterado, yang merupakan campuran dari etnis Tionghoa dan Dayak, memiliki tradisi unik yang sulit ditemukan di tempat lain. Perayaan Cap Go Meh dan ritual sembahyang kubur masih dijalankan dengan khidmat. Namun, yang paling menarik adalah perpaduan budaya dalam kehidupan sehari-hari, seperti kuliner khas yang memadukan cita rasa Tionghoa dengan bahan-bahan lokal Kalimantan. Keunikan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman budaya autentik.
Dengan segala potensi yang dimiliki, Monterado kini berada di persimpangan. Di satu sisi, tekanan dari industri ekstraktif seperti pertambangan dan perkebunan terus mengancam kelestarian situs sejarah dan alam. Di sisi lain, kesadaran akan pentingnya pariwisata berbasis budaya dan ekologi mulai tumbuh. Pengembangan yang terencana dan melibatkan masyarakat lokal menjadi kunci agar jejak peradaban kongsi Tionghoa ini tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi juga menjadi aset ekonomi dan kebanggaan bagi generasi mendatang. Pemerintah daerah diharapkan dapat segera merumuskan regulasi yang melindungi kawasan bersejarah ini sembari membuka peluang investasi pariwisata yang ramah lingkungan.