PONTIANAK — Proyek Kereta Api Trans Kalimantan kembali mencuat setelah pemerintah resmi memasukkannya ke dalam daftar PSN periode 2024-2029. Jalur sepanjang 2.772 kilometer ini direncanakan menghubungkan Kalimantan Barat hingga Kalimantan Timur, melintasi sejumlah kota strategis termasuk Pontianak, Sintang, dan Palangkaraya.
Warga Kalbar, khususnya di Pontianak, menyambut kabar ini dengan antusias. Namun, sebagian besar masih menyimpan keraguan. Sebab, proyek serupa sudah beberapa kali masuk daftar prioritas nasional sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, namun tak kunjung terealisasi.
Sejak pertama kali digagas, Kereta Api Trans Kalimantan selalu terganjal pembebasan lahan dan pendanaan. Medan berat berupa hutan lebat dan lahan gambut di Kalimantan Tengah juga menjadi tantangan teknis yang tak kunjung terpecahkan. Akibatnya, proyek yang diharapkan menjadi solusi logistik dan konektivitas ini hanya tinggal wacana.
Kini, dengan masuknya kembali ke PSN, publik berharap ada skema pendanaan yang lebih konkret. Pemerintah pusat disebut akan mengalokasikan anggaran melalui APBN dan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).
Jika terealisasi, jalur kereta ini akan memangkas biaya logistik antarkota di Kalimantan yang selama ini sangat bergantung pada angkutan sungai dan jalan darat yang rusak. Warga Pontianak, misalnya, bisa mengirim komoditas seperti kelapa sawit dan karet ke Pelabuhan Kijing di Mempawah dengan biaya lebih murah.
Namun, tanpa progres fisik, semua manfaat itu masih bersifat spekulatif. “Kami sudah sering mendengar wacana ini. Yang penting sekarang ada bukti, ada kontraktor yang mulai bekerja di lapangan,” ujar seorang warga Pontianak yang enggan disebutkan namanya.
Pemerintah menargetkan proses lelang dan studi kelayakan (feasibility study) dimulai pada tahun 2025. Namun, tanpa komitmen politik yang kuat dan alokasi anggaran yang jelas, proyek ini berpotensi kembali menjadi catatan kaki dalam dokumen PSN.
Publik di Kalbar kini hanya bisa menunggu. Antusiasme tetap ada, namun keraguan juga tak bisa disembunyikan. Seperti kata pepatah, lain kali jangan hanya janji, tapi juga rel.