KALIMANTAN BARAT — Kemenangan atas Madura United menjadi penutup manis bagi PSIM di hadapan pendukungnya sendiri. Skuad asuhan Jean-Paul van Gastel kini tinggal menyisakan satu laga tandang melawan Arema FC di Stadion Kanjuruhan, Jumat (22/5) pekan depan.
Pelatih asal Belanda berusia 54 tahun itu mengaku harus beradaptasi dengan jadwal perjalanan panjang yang tidak biasa ia temui di Eropa. "Terkadang kami harus bepergian selama empat hari dan bagi saya itu adalah hal baru," ujar Van Gastel.
Ia menilai kompetisi musim ini sangat ketat. Meski baru pertama kali menangani klub di Indonesia, Van Gastel merasa proses adaptasi berjalan positif. "Saya sangat menikmati tahun pertama saya di sini," katanya.
Van Gastel menyoroti atmosfer pertandingan di Jakarta dan Bandung yang dipadati puluhan ribu penonton. Menurutnya, momen itu menunjukkan esensi sepak bola yang sesungguhnya: bermain untuk suporter.
Namun, ia menyayangkan banyaknya laga yang harus digelar tanpa penonton. "Kami bermain untuk suporter. Sayang sekali jika mereka tidak bisa hadir," imbuh juru taktik yang pernah menukangi Feyenoord tersebut.
Van Gastel menegaskan dirinya tidak hanya betah secara profesional, tetapi juga personal. Ia melihat PSIM sebagai klub yang stabil dengan manajemen dan pemilik yang memiliki visi jangka panjang.
"Salah satu tugas dan fokus saya adalah membantu mereka berkembang secara bertahap di semua lini organisasi," jelasnya. Ia juga mengaku senang tinggal di Yogyakarta bersama pasangannya. "Kami sangat suka tinggal di sini, itulah mengapa saya ingin bertahan," pungkasnya.
Didatangkan pada Juli 2025, Van Gastel mencatatkan 11 kemenangan, 12 hasil imbang, dan 10 kekalahan dari 33 laga. Catatan itu membawa PSIM aman dari zona degradasi dan masih berpeluang memperbaiki posisi di laga pamungkas nanti.
Pertandingan terakhir musim ini melawan Arema FC akan menjadi penutup perjalanan panjang Van Gastel di musim perdananya. Ia berharap bisa mengakhiri kompetisi dengan hasil positif di kandang lawan.